Perjalanan menuju Ayau-Asia sungguh melelahkan rasa ngantuk, cape, pusing seolah menjadi tradisi yang tak terpisahkan ketika melakukan perjalanan baik udara, laut dan darat, sungguh melelahkan dan beresiko namun menyenangkan bila kita tiba dengan selamat. Perjalanan sorong Ayau pagi itu senin 11 Oktober kami tempuh dalam waktu 6 jam, kami bertolak dari pelabuhan perikanan sorong pukul 10-00 (pagi) dan tiba di Ayau tepat jam 16-00, kondisi laut waktu keluar dari sorong cukup tenang, namun ketika kami mendekat ke pulau waigeo tepatnya kampung Urbinasopen, speed boat yang kami tumpangi sesekali harus berhenti sejenak, karena dihantam ombak angin timur yang cukup kencang, perlahan-lahan kami terus melaju hingga kami berteduh sementara di satu tempat yang bernama Warsanenem tepat jam 11-30, usai makan siang kami terus melakukan perjalanan hingga tiba di kampung Warwanai, Distrik Wawarbomi tepat di pulau waigeo bagian Utara, setelah kami menurunkan 1 penumpang yang ikut dalam perjalanan kami di kampung tersebut, perjalanan pun kami lanjutkan ke Ayau, wah perjalannan mengarungi laut lepas tanpa pulau yang nampak pun kami lakukan hingga kami tiba di Ayau.
Sementara hampir mendekati bibir pantai kami disuruh untuk memutar haluan menuju tempat penjemputan tamu, kami pun bertanya wah ada apa ni…. rupanya persiapan penjemputan sudah dipersiapkan sehingga ketika kami diantar ke pelabuhan Dorei, terdengar alunan music suling tambur yang telah disiapkan oleh anak-anak SD YPK Silo Dorekhar yang menjemput kami, rasa haru dan senyum yang terpancar sesekali oleh kang Yayat dan Mas Hari seakan menyemagatkan hati dan suasana sore itu, Ibu Eleanor yang juga mengikuti trip kali ini sungguh merasa senang dengan music sultam” suling tambur” ini. Acara pengalungan pun dilakukan kepada Mas Hari, kang Yayat, dan Eleanor, setelah itu kami di antar menuju kantor KKLD yang berada di tengah-tengah kampung tepatnya di kampung Boiseran.
Setelah tiba di kantor kami diperdengarkan dengan sebuah alunan lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak SD yang mengisahkan keadaan pendidikan dulu kala yang masi tinggal dalam kegelapan tetapi sekarang sudah berada dalam terang, kita bisa baca dan menulis). Usai mendengarkan arahan singkat sekaligus ucapan terima kasih dari Tim RARE , kemudian anak-anak SD pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Malam harinya kami berecana untuk rapat bersama dengan warga masyarakat yang berada di tiga kampung tersebut yakni kampung Boiseran, Runi dan Dorehkar, namun kami tak sempat karena malam harinya banyak warga masyarakat yang mengikuti pemutaran film tentang kegiatan konservasi di KKLD Ayau-Asia. Ahirnya rapat kami putuskan pada esok hari selasa tanggal 12-10-2010 pukul 09-00 ( Pagi) bersama pemerintah kampung dan Masyarakat di 3 kampung tersebut.
Beberapa hal kami sepakati dalam rapat tersebut dan akan menjadi diskusi yang terus akan dilakukan higga beberapa pembahasan yang di bahas dapat tercapai, misalnya persiapan penyusunan (PERKAM) Peraturan Kampung, pembentukan aliansi nelayan Ayau dan pembuatan kesepakatan bersama masyarakat nelayan untuk menaikkan harga ikan kerapu dan ikan napoleon di Ayau merupakan wacana yang terus akan dibangun kedepan.
Usai melakukan rapat, perjalananpun kami lakukan ke kampung Meosbekwan, namun sebelum rapat sore hari di Meosbekwan, kami melanjutkan perjalanan ke Distrik Ayau kepulauan tepatnya di pulau Abidon di pulau ini masyarakat dan Petugas perikanan sedang asiknya membudidayakan rumput laut, kami setelah berdiskusi dengan masyarakat, kemudian kami melakukan perjalanan ke pulau Kanober pemandangan alam yang sungguh menakjupkan suasana hati selalu memberi sinyal agar kami segera mengambil langkah untuk menata Ayau bersama kemilau hamparan karang nanpesona hingga kelak kami akan menikmatinya.
Dari Kanober perjalananpun kami lanjutkan ke Kampung Rutum, di kampung rutum kami disuguhkan dengan suguhan kelapa muda oleh bapak Kepala kampung Rutum bapak Simson Mirino setelah diskusi singkat dengan kelompok masyarakat di kampung Rutum sekaligus pamitan bersama warga masyarakat di kampung Rutum, saat mendekati speed boat, kami dikejutkan dengan acara adat mansorandak yang dipersembahkan oleh Bapak Kepala Kampung kepada kang Yayat, Mas Hari dan Ibu Eleanor, 3 piring gantung pun dipersembahkan kepada beliau bertiga sebagai tanda pertama kali menginjakkan kaki di kampung Rutum.
Usai dari kampung Rutum, Perjalanan pun kami lanjutkan ke Kampung Meosbekawan setibanya di kampung Meosbekwan, kami cukup lama menunggu masyarakat karena beberapa tokoh masyarakat baru pulang melaut, setelah menunggu beberapa lama kemudian kami melaksanakan rapat bersama kelompok masyarakat di kampung Meosbekwan, rapat yang kami lakukan beberapa hal diantaranya membahas tentang keluhan mengenai kapal ikan hias yang sering masuk dan mencari ikan dengan praktek penagkapan ikan hias yang merusak karang, beberapa usul masyarakat tentang pendirian pos pengawasan zona marga burdam dan kekecewaan masyarakat di kampung meosbekwan akibat dari beberapa oknum nelayan yang melakukan pelanggaran di tempat zona marga Burdam, menjadi wacana yang akan ditindak lanjuti oleh CM- Ayau. Usai rapat, perjalananpun kami lanjutkan kembali ke Pos KKLD Ayau.
Esok Harinya 13 Oktober kami langsung melanjutkan perjalanan ke Teluk Manyailibit yang adalah salah satu KKLD diantara 3 KKLD yakni KKLD Ayau, Dampier dan Wayag, perjalanan pun kami lakukan dari Ayau Menuju TELMA ( Teluk Manyailibit), sebelum sampai di TELMA kami menyempatkan diri singgah di salah satu pulau yang bernama Mamyaef, dipulau ini terdapat 1 rumah dan 1 buah keramba jaring apung (KJA), saat tiba dipinggir pantai, kami rupanya disambut ribuan ekor ikan oci dan ikan sardine di bibir pantai pulau tersebut, saat menikmati suasana alam nan damai tersebut, tiba-tiba saja kami dikejutkan dengan sekelompok ikan bobara yang berusaha memangsa ribuan ekor ikan lemuru dan oci yang menghiasi indahnya pinggiran pantai pulau tersebut , beberapa diantara ribuan ekor ikan tersebut langsung terdampar dipinggir pantai, Ibu Eleanor yang juga menyaksikan pemandangan itu tiba-tiba terkejut dan terdengar teriakan keras, rupaya ikan yang takut tersebut lansung berlarian tepat di bawah kaki Ibu Eleanor yang saat itu berdiri 2 meter jaraknya dari bibir pantai, 2 ekor diantaranya melompat dan hamper mengena kaki Kang Yayat yang berjalan di pinggir pantai, terdengar teriakan Mas Hari, Kata mas hari, “Kang Yayat tu tolong selamatkan ikan di bawah kaki mu”, ikan yang menggelepar tersebut langsung terselamatkan kembali ke laut lagi, “ wah ini kok kenapa banyak sekali berkumpul begini”, rupanya ikan-ikan tersebut mungkin ingin menperlihatkan bahwa keharmonisan hidup yang seimbang antar alam dan manusia kepada semua orang. Ya Allah baru kali ini kami melihat pemandangan seperti ini kata Kang Yayat, dengan atraksi yang mengejutkan suasana siang saat berada di pulau Mamyaef. Perjalananpun kami lanjutkan ke Teluk Manyailibit Rasa bangga dan haru terus terpancar dibenak Kang Yayat yang heran karena baru pertama kali menyaksikan ikan yang hampir mencapai ratusan ribu tersebut, aneh memang tapi itulah kenyataan yang dialami oleh tim RARE saat mengunjungi site KKLD Ayau-Asia. Valend Burdam, CM




评论 (2)
Deskripsi yang bagus sekali tentang kerja keras tim Ayau Asia. Saya yakin sekali bahwa semakin besar pengorbanan maka semakin besar pula hasil yang akan didapat.
Terima kasih untuk laporan perjalanan.