Asti Tyas

The Basics

Name

Asti Tyas

Region

Asia

My Conservation Work

Job Title

Associate Pride Program Manager

Employer

Rare

Conservation Discipline
Conservation Actions

Asti Tyas's Public Profile

About Me

Asti has her Master degree in Management of Marketing Communication from the University of Indonesia, Jakarta and her Bachelor degree in Electrical Engineering from the University of Gadjah Mada, Jogjakarta.  She has spent the past 6 years working for Aksi Stop AIDS Program (ASA), based in Jakarta, a joint program of Family Health International (FHI) Indonesia, Ministry of Health and National AIDS Commission in prevention, care, support and treatment of HIV and AIDS, in 8 provinces in Indonesia. Her most recent role was as a Behavior Change Intervention Officer where she was responsible for helping to develop strategy, concept and visual design of communication campaigns targeted to specific most at risk populations.  She then had to manage and supervise the implementation of the FHI Indonesia behavior change strategy and as you can imagine this has a lot of parallels with our Pride campaigns.  Asti also has facilitated many training forums while in this role, i.e. for outreach workers of implementing agencies, Community Organizers of targeted areas, Peer Leaders of Military and Police, prison staffs of Ministry of Law and Human Rights. Asti also spent 4 years during her time to pursue her bachelor degree to work as an outreach worker of Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta (Indonesia Planned Parenthood Association, Yogyakarta Chapter). She disseminated information and encouraged the behavior change of HIV and AIDS prevention and reproductive health among female sex workers in brothel areas in Yogyakarta.

Educational Credentials

M.Si. in Management of Marketing Communication, University of Indonesia, Jakarta; Behavior Change Intervention Officer, Aksi Stop AIDS, Family Health International-Indonesia

 

My Contributions

video

Conservation song of Pride Campaign in Halimun - Gunung Gundul (played by calung)

This song is one of total 12 conservation songs composed by the local community in Halimun, West Java, Indonesia. They live in some villages of total 114 ones since many years ago before their environment has been determined as the extension of Halimun-Salak National Park (from 40,000 ha into 113,357 ha; taking over the ex-land of State Forestry Company) in June 2003.

This song is one of many various locally-developed marketing vehicles of Pride Campaign implemented by Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Rare Conservation and Halimun-Salak National Park. Nani Saptariani, the Campaign Manager, leads her team to work closely with the local community and key stakeholders to protect and conserve Halimun Forest through forest collaborative management.

This song is unique since it involves the Sundanese traditional musical instrument played by the local musician. Enjoy the Sundanese atmosphere in disseminating conservation message through the beautiful and peaceful tone!

link

Taman Nasional Ujung Kulon: Populasi Badak Jawa Tinggal 50 Ekor

Ujung Kulon (ANTARA), 22 Juni 2010 - Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) memperkirakan populasi Badak Jawa di kawasan yang dikelolanya saat ini diperkirakan hanya tinggal 50 ekor.

Menurut Kepala Balai TNUK, Agus Priambudi, tanggal 21 dideklarasikan sebagai hari Konservasi badak Indonesia untuk mengingatkan masyarakat Indonesia agar bisa menjaga dan melestarikan Badak Jawa (Rhinocerus Sondaicus) yang merupakan spesies paling langka di dunia.

"Pencanangan ini untuk mengingatkan masyarakat agar selalu menjaga dan melestarikan badak, khususnya Badak Jawa yang hanya ada di TNUK," kata Agus Priambudi.

Selain deklarasi penangkaran Badak Jawa dan pencanangan hari konservasi badak Indonesia, organisasi internasional konservasi alam dan sumberdaya alam (IUCN) dalam kesempatan tersebut mencanangkan tanggal 21 Juni sebagai hari badak internasional.

Untuk informasi lebih detil, silakan baca artikel selengkapnya di link berikut ini:

Campaign Blog

MENYELAMATKAN HABITAT JALAK BALI MELALUI DUNIA SENI BONDRES, Pementasan Kesenian Bondres, Sumberkima, 23 Januari 2010

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari lokakarya guru yang telah diadakan pada tanggal 17 Nopember 2009 yang telah melalui serangkaian proses penyempurnaan untuk menemukan satu bentuk penyampaian pesan kampanye yang sesuai dengan budaya lokal.

Berawal dari skenario awal panggung boneka yang telah dibuat pada lokakarya guru, yaitu mengambil cerita tentang Jalak Bali akhirnya ditawarkan kepada peserta yang tertarik untuk terlibat lebih jauh lagi, mendiskusikan skenario dan bentuk kegiatan yang pas untuk dipentaskan.

Campaign Blog

LOKAKARYA GURU, PENYELAMATAN HABITAT JALAK BALI MELALUI DUNIA PENDIDIKAN - 14 Nopember 2009

Pada tanggal 14 Nopember 2009 bertempat di aula SDN 02 Sumberklampok diadakan lokakarya yang diikuti oleh perwakilan guru SD dari 9 desa di sekitar kawasan TNBB menghasilkan dua tim yang menggodog rencana kegiatan yaitu (1) skenario panggung boneka dan lagu konservasi serta (2) kebun pembibitan sekolah. Yang menarik dalam kegiatan ini adalah kerjasama tim, mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan semua dilakukan oleh fasilitator lokal. Peran manager kampanye hanya sebatas memberikan penjelasan tentang substansi dari kegiatan (sesuai dengan sasaran SMART) serta tujuan dan hasil yang diharapkan dari lokakarya guru. Selebihnya tim lokal mengambil alih semua peran, mulai dari persiapan teknis, penganggaran dan penentuan fasilitator.

 

document

Safari Ramadhan 2009 di Rawa Tripa - notulensi dan materi ceramah imuem masjid gampong

Selama Ramadhan 2009, Wahyudi dan team berkeliling dari satu masjid gampong ke yang lainnya. Momentum keagamaanI yang sangat berarti bagi masyarakat Muslim harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai pintu masuk untuk menjangkau khalayak sasaran. Apalagi masyarakat Aceh dikenal sangat taat beribadah. Mereka menguatkan dan mendampingi imuem untuk menyampaikan ceramah ba'da tarawih. Kali ini ceramah yang istimewa karena mengaitkan pesan konservasi dengan aktivitas keagaamaan yang semakin kental selama Ramadhan. Semoga pesan konservasi yang disampaikan para imuem akan melekat di hati dan otak para khalayak sasaran, tidak hanya selama Ramadhan, namun seterusnya. Diskusi agama seperti ini masih bisa diteruskan di luar Ramadhan dengan format berbeda, misalnya melalui pengajian rutin mingguan atau bulanan.