Bogor 3 - Mini Campaign

Blog Posts

Strategi Sebelum Poster Tersebar

Pangkalan Bun, 16 Januari 2010. Satu lagi media kampanye bangga SMSL telah jadi, yaitu poster. Ada 4 tema poster dan masing-masing tema dicetak sebanyak 1200 lembar. Dari beberapa hasil diskusi, saya mendapatkan banyak masukan. Dan masukan-masukan inilah yang menjadi tahapan bagi saya untuk membuat strategi pendistribusian poster tersebut. Apa saja yang sudah kami strategikan:

Menelusuri Jejak PSA Kopi Asin

  Pangakalan Bun, 15 Januari 2010. Update sebuah cerita dari lapangan. Dua hari salah seorang staf Yayorin melakukan kunjungan rumah ke rumah dari satu desa ke desa satunya. Ada 3 desa (desa Tanjung Putri, Tanjung Terantang, Kumpai Batu Bawah dan 2 kelurahan yang dikunjungi. Dari kelompok ibu-ibu saat berkumpul sampai bapak-bapaknya selepas bekerja dari ladang ditemui. Permisi pak/bu, saya dari Yayorin mau tanya apa bapak pernah mendengar iklan yang bercerita kopi asin?, tahu maksud pesan itu pak? perasaan bapak/ibu mendengar iklan itu bagaimana perasaannya? harusnya kita melakukan apa? Seputar itulah pertanyaan rekan kami selama berkelliling dua hari.

Hasilnya dari 5 desa yang baru-baru ini dikunjungi bahwa mereka pernah mendengar iklan kopi asin itu. Mereka setuju ajakan iklan itu. Mereka ada yang menanggapi bahwa benar dirasa semakin hutan habis air laut semakin sering menjangkau wilayah hulu. Perladangan cara tebas bakar menjadi bencana bagi tanaman yang sudah besar. Mereka juga telah mendengarkan rata-rata kembali memberitahukan ke tetangganya atau ke saudaranya. Seperti di Rt 23 kelurahan Mendawai, namanya pak Sukar, dia tokoh dan sering tak ketinggalan mendengarkan radio Pakuba FM dan saat mendengar iklan dan bahkan talkshow beliau setuju dan sering memberitahu warganya. Begitu pula yang dilakukan Bu Sri di desa Kumpai Batu Bawah beliau memberitahukan ke saudara-saudaranya. Ibu Sri bilang, jika hutan tidak rusak dan habis mungkin tidak ada banjir terus di desa ini. Yang menarik di Tanjung Terantang yang punya radio itu kurang dari 10, tapi si empunya radio dengan semangat memberitahukan si pesan iklan tersebut, bahkan PPLnya diberitahu. Untuk di Tanjung Putri, ada sebagian yang tidak mendengar karena tidak punya radio. Rata-rata yang tidak punya radio nelayan laut. Di desa Tanjung Putri dan kelurahan Mendawai Seberang yang mendengar kebanyakan ibu-ibu.

Ungkapan mereka sangat setuju, paham dengan maksud isi iklan dan himbauan bupati. Ada kisah seorang istri dari Mendawai Seberang yang mengisahkan ke suaminya akibat sering menebang hutan. Dia bilang ke suaminya karena suaminya dulu menebangi hutan yang sekarang berganti mata pencaharian menjadi pedagang. Ada juga yang mengungkapkan dari mendawai Seberang mereka merasa tebas bakar itu boros tenaga. 50 an orang yang ditanya selam dua hari dimintai pendapat mereka. Untuk bapak-bapaknya biasa mendengar siang hari setelah pulang dari ladang, ibu-ibunya pada pagi hari saat menyiapkan makan dan masak, ada juga yang sekali-kali mendengar malam dan ada juga yang sepanjang waktu.

Salam Bangga dari sekitar SM Sungai Lamandau

Demplot Kebun Campuran Dipetakan

Pangkalan Bun, 14 Januari 2010. Salah satu usaha menjaga dan melestarikan kawasan SM Sungai Lamandau dan serta dukungan dari masyarakat sekitar, Tim edukasi Proyek EC Lamandau membantu pembuatan dan pengelolaan demplot kebun campuran di lahan yang dipinjamkan desa Tempayung dengan ukuran 150x150 m dengan membuat fasilitas pondok belajar untuk para petani.Sampai saat ini demplot telah dipetakan disainnya untuk pemanfaatan lahannya. Dimana letak tanaman utama, tanaman hortikultura dan tanaman jangaka menegah atau sela (pisang dan pepaya) dan letak sekat bakar.   Tanaman utama yang akan ditanam di demplot ini adalah karet, jelutung dan buah. Di sela tanaman akan ditanami gaharu. Selain itu akan ditanami tanaman jangka menengah dan tanaman panen jangka pendek (hortikultura=sayuran). Dengan adanya kebun ini harapan kepada masyarakat dapat mengadopsi dan bisa memanfaatkan lahan yang ada dan tidak membuka hutan yang ada. HEMAT DI LAHAN SENDIRI dan HEMAT WAKTU, BIAYA dan TENAGA. Dengan harapan masyarakat melakukan dengan cara tebas dan tanpa membakar juga tak berpindah-pindah lagi.
Bangga memiliki kawasan Suaka Margasatwa Sungai lamandau untuk kehidupan generasi mendatang dengan mengurangi ketergantungan pada hutan dan merusak hutan.

salam dan semangat
indra

Senangnya Masyarakat Babual Baboti Mulai Menyemai Jelutung dan Berladang Menetap

Pangkalan Bun, 11 Januari 2010. Tiga bulan lalu saat saya melakukan kunjungan ke desa Babual Baboti hanya baru 4 orang yang menyemaikan jelutung.Ada yang menyemaikan sudah setinggi 20-25 cm.Ada juga yang sudah menanam. Dari pertemuan tiga bulan lalu saya juga mendengar komitmen warga untuk berladang menetap.
Hasilnya Desember 2009, saat tim kami melakukan monitoring ke lahan-lahan pertanian masyarakat di tiap dusun di desa Babual Baboti masyarakatnya sebagian telah melakukan perladangan menetap dan mulai ada yang menyemai jelutung. Saya sempat menghitung jajaran biji yang telah mulai tumbuh akar kailnya itu sebanyak lebih dari 300 polibag. Mereka swadaya membeli polibag karena ingin sekali membudidayakan jelutung selain karet.
Ladang kebunnya yang menetap sudah dekat dengan rumah-rumah mereka. Walau sebagian masih membakar. Untuk himbauan mengurangi pembakaran, kami melakukan pendekatan pelatihan pembuatan sekat bakar. Masyarakat mulai memahami dan takut tanaman mereka yang sudah besar ikut terbakar. Dan mereka ingin juga bertani dengan hasil yang baik. Mereka menanam sayuran yang sudah dengan membuat bedengan, dipagari untuk menghindari gangguan binatang ternak dan binatang liar, tidak jauh dari rumah, mulai menanam pola campuran (sayuran, dipadu pisang dan karet). Senangnya melihat beberapa perubahan di masyarakat. Kami akan terus memonitor berapa besar jumlah petani yang berladang menetap dari jumlah yang ditargetkan. Tapi ini titik awal perubahan dari kampanye kami selama ini di desa Khalayak target.

Sebagian Mendengar, Sebagian Tidak ...apa alasannya di lapangan

Pangkalan Bun, 11 November 2010. Dari hasil monitoring media pemasaran kampanye pride SMSL ternyata ada yang tidak mendengarkan siaran iklannya. Pasalnya ternyata dari hasil penelusuran di lapangan di desa Tanjung Putri dusun Pendulangan, sebagian dari mereka tidak lagi mempunyai radio. Sebagian masyarakatnya sehabis pulang bekerja menyalakan genset dan menyalakan televisi. Sedangkan di wilayah seberangnya yang juga masih masuk administrasi desa, mereka sebagian mengatakan hal serupa. Artinya tidak semua, tidak mendengar radio.

Memetik Makna Enam Bulan Pertama Fase Kampanye Lapangan

Pangkalan Bun, 9 Januari 2009. Sejak mulai bergerak memulai kampanye pride SM Sungai Lamandau banyak sesuatu hal yang menjadi pelajaran bagi saya dan tim di Yayorin. Enam bulan berjalannya kampanye pride untuk pelestarian SM Sungai Lamandau membuahkan banyak hal bermakna. Saya selaku manajer kampanye mengakui banyak yang harus dipelajari lagi dan mengolah strategi untuk kegiatan ini efektif dan efisien.

Menganalisa data, membuat media pemasaran dan mengujinya agar selaras dengan tujuan yang kita inginkan dan khalayak mau tergerak untuk melakukannya, mencari vendor yang tepat, mempelajari momentum, membuat strategi distribusi, penyampaian pesan dan ajakan, membuat konsep monitoring untuk mencari apakah yang kita sampaikan efektif memberi perubahan dan diikuti adalah rangkaian besar yang saya telah lalui enam bulan pertama berkampanye.

Dalam menganalisa data saya dan tim memetik makna data mana yang bisa terarah untuk dasar sebuah perubahan yang terangkum dalam sasaran SMART. Begitu pula saat membuat disain media pemasaran dan pengujiannya, saya dan tim belajar bagaimana media itu bisa menggerakkan perubahan perilaku yang diinginkan kampanye kami. Tidak hanya itu, sebelumnya dalam mencari vendor saya menjadi belajar bagaimana mengenal vendor itu bekerja.

Yang berkesan bermakna lainnya adalah mempelajari momentum. Saya diperjalanana pertama sering terjebak dengan kondisional bersifat dinamika. Apa yang sedang menjadi permasalahan segera ditanggapi dengan kampanye pencegahan. Ternyata tidak, kita perlu mengenal ada momentum apa dalam waktu ke depan yang bisa menjadikan media kita saat didistribusikan menjadi efektif. Seperti saat pergantian tahun, kalender menjadi media efektif karena banyak orang pasti berharap kalender baru. Itupula juga harus diikuti dengan strategi kita mendistribusikan media. Jika ada media yang sifatnya kontinyu temanya dan pesannya akan bersambung tentunya perlu kita siasati dengan tidak bersamaan, tapi per tema dengan batasan waktu. Hal itu menjadi makna pembelajaran bagi saya dan lembaga selama ini. Terakhir adalah bagaimana kita untuk tidak lupa meonitoring media yang telah tersebar ke khalayak, apakah kahlayak menjadi lebih paham dan apakah sesuatu perubahan yang kita inginkan terjadi itu sangat perlu. Terima kasih sekali, kegiatan ini memberikan pembelajaran yang baik. Terus terang saya banyak belajar dari enam bulan ini. Tentunya ada banyak tantangan di enam bulan kedepan. Saya mulai membuat pembelajaran ini sebagai panduan saya dan teman-teman di Yayorin.

Balon laba-laba inspirasi dari alam

Pangkalan Bun, 8 Januari 2010.Bayangkan.., balon-balon di kota-kota, berbentuk hewan-hewan lucu. Mereka mengambil inspirasi ini dari alam. Mengapa.. ?!. Banyak orang hanya mendengar keanekaragaman hayati. Peneliti jauh-jauh dari luar negeri, salah satu alasannya karena Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Di atas tanah, dibawah lautan, melimpah ruah kekayaan negeri ini.

Indonesia termasuk salah satu negara tropis. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia setelah Brazil. Hampir 40.000 jenis tumbuhan, 350.000 jenis hewan, 5000 jenis jamur, dan sekitar 1.500 jenis Monera berada di Indonesia.

Kekayaan ini juga banyak memberi dampak. Salah satunya adalah sebuah inspirasi. Coba kita lihat laba-laba. Ia menjadi Arsitek terbaik dunia. Membangun instalasi yang lebih kuat dari baja, lebih lembut dari sutra. Ketika saya melihat balon udara mainan anak-anak, banyak sekali yang terinspirasi dari alam. Coba kita bayangkan ketika semuanya perlahan punah dengan kata lain hutan berproses menjadi monokultur.
Mari berbagi untuk kelestarian hutan, alam tidak akan meminta apa-apa, Alam memberikan semuanya dengan tulus tanpa kita membayar.

Mari kita jaga SM Sungai Lamandau
Salam Lestari..
Fadlik Al Iman

Kenapa Harus Air..?

Pangkalan Bun, 30 Desember 2009.SM Sungai Lamandau kawasan yang menjadi urat-urat air ke desa sekitar. Apa yang akan terjadi saat urat air hilang, ibarat urat nadi putus. Seperti suplay darah yang di pompa jantung berhenti. Air salah satu kebutuhan manusia. Perlu diketahui kadar air yang normal dalam tubuh manusia berkisar antara 70 hingga 80 % dari bobot tubuh. Di dalam tubuh, air sudah seharusnya mengalami proses absorpsi di usus halus, reabsorpsi di usus besar, juga mengalami proses pengeluaran melalui kelenjar keringat dan saluran urin/kencing.
Kadar air dalam tubuh harus selalu seimbang pada kadar normalnya. Bila terjadi suatu keadaan di mana kadar air di dalam tubuh turun dari kadar seharusnya, maka tubuh secara langsung akan meminta penggantian kadar air yang hilang dan oleh sebab itulah kita memerlukan minum. Demikian pula halnya jika saat kadar air sudah lebih dari cukup, maka tubuh akan mengeluarkan kelebihan air itu melalui saluran urin. Jika kehilangan kadar air tidak segera diganti, maka kadar air tubuh akan semakin turun sehingga kadarnya di bawah kadar normal dan tubuh akan mengalami dehidrasi (kekurangan cairan). Secara fisik manusia bisa hidup tanpa air alias menahan haus hingga maksimal 3-5 hari. Air adalah sumber kehidupan mari jaga sisa hutan Kalimantan dan bangga memiliki kawasan SM Sungai Lamandau. Saya bangga sebagai putera daerah memiliki kawasan ini.  

Banyak nama, Namun Satu yang Khusus untuk Anda

Pangkalan Bun, 29 Desember 2009. Banyak nama Billy yang kita kenal. Billy the kid, Billy pengamen jalanan, Billy pencukur rambut, pemilik cafe dan masih banyak lagi. Namun tidak dengan Billy yang satu ini. Namanya hanya Bili, nama dari burung Rangkong yang hidup di SM Sungai Lamandau. Memang secara pasti tidak ada Rangkong bernama Bili di SM Sungai lamandau. Bili ini adalah nama simbol/maskot yang dibuat untuk kampanye Bangga SM Sungai Lamandau.

Seekor burung rangkong yang tak bisa terbang, di dalamnya orang-orang bergantian memakainya, maklumlah si Bili hanya Kostum. Metode ini dilakukan agar tiap kunjungan yang kami lakukan lebih terasa bermakna. Bunyi tanpa makna apalah arti ungkap sang bijak sikutu buku. Dalam kunjungan di tahun 2009 Bili telah mengunjungi belasan sekolah dan berbagai tempat umum.

Dalam kunjungannya Yayorin keberbagai Desa, Sekolah terkesan anak-anak dan warga lebih antusias ketika Billi menghampiri mereka, selain Bili ada tokoh lain yakni Paman Win siorangutan jantan, Bibi Siswi siorangutan betina juga sam si orangutan. Ketika dilihat dari beberapa kesan si pemakai kostum tersebut, meski lelah dengan keringat bercucuran, mereka bangga akan beberapa Maskot yang sedang diusung.

Upaya sosialisai ini harus terus dilakukan. Apalah artinya reta-reta kunjungan apabila terpisah dari masalah lingkungan. Dengan maskot yang tidak segan menghiasi suasana sosialisasi kami berharap bahwa kita semua makin merasa memiliki SM Sungai Lamandau.

Di kota bisa dihitung dengan jari jumlah pemilik tanah sampai hektaran, namun di sini masih banyak yang memilikinya. Meski pola berladang berpindah semakin sedikit, kita semua perlu membuat strategi yang lebih efektif tentang berladang. Kehidupan esok memang makin berat dan melelahkan, namun jika tidak dari sekarang kita sendiri yang mengupayakan mimpi kita. Maka percayalah bahwa diujung hidup kita hanya jadi penonton.

Mari bersama-sama saling mengingatkan untuk kehidupan kedepan yang lebih berkualitas, tanpa menjual lahan, tanpa mengeluh, dengan tingkah laku bukan kata. Bumi ini akan cukup untuk bermilyar-milyar umat manusia, tetapi tidak akan cukup untuk satu orang yang rakus. Selamat bangga dengan dirinya sendiri untuk menebarkan virus-virus cinta lingkungan.

Salam Lestari..
Fadlik Al Iman

POSTER BATANG TORU

Kalau boleh dibilang "sangat melelahkan", tetapi cukup memuaskan. Bagaimana tidak, hampir 5 kali desain poster di putar balik, tarik ulur, tukar ulang. Mulai dari gambar, warna, tata letak, jenis atau model huruf, sampai dengan narasinya..., wah.. sungguh melelahkan. belum lagi pre-test di masyarakat, kurang ini, nambah itu, mau ini, mau itu... iihhh... bukan lagi peluh yang keluar, tapi air mata..... hahahahaha.........

similar groups

  • Asia


  • group members

    sunflower.jpg
    n9501219_30961469_4577.jpg