RarePlanet.org, as you know it, will retire in spring, 2014. Please visit www.rare.org for new and improved content and subscribe to the e-newsletter for continued Rare stories and updates. Thanks for your contributions. We look forward to hearing from you on Rare.org!

Campaign for Sustainable Agriculture/Ujung Kulon National Park, Banten, Java (Bogor 3 Campaign)

Blog

“MARKETER PESAN” YANG IDEAL DI KAWASAN KONSERVASI

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Pendahuluan

Tidak dapat dipungkiri, hutan telah memberikan kontribusi yang cukup besar  untuk pembangunan ekonomi nasional.  Pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat yang ada didalam dan disekitar kawasan hutan sebagian besar sangat tergantung pada sumberdaya alam yang ada didalam hutan. Ironisnya, sumberdaya hutan yang potensial ini semakin mengalami tekanan dari segala bentuk kerusakan lingkungan yang mengkhawatirkan. Setidaknya, dalam satu dasawarsa terakhir, laju kerusakan sumberdaya alam hutan sebesar 1,17 juta ha/tahun (Laju deforestasi 2003-2006, Dephut). Beberapa faktor yang seringkali ditemukan sebagai penyebab, antara lain; penebangan liar, perambahan lahan hutan untuk pertanian, perkebunan serta pemukiman, kebakaran hutan, pemanfaatan sumberdaya hutan yang tidak terkendali, dan kurangnya peranserta masyarakat di sekitar hutan dalam pembangunan kehutanan merupakan sebagian penyebabnya. Salah satu faktor penting yang menjadi kontribusi terhadap penurunan kualitas sumberdaya alam adalah ketidaktahuan dan kekurangpedulian masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan hutan secara berkelanjutan.

Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan adanya suatu proses atau kegiatan yang membantu masyarakat untuk memahami, menyadarkan dan berperan aktif dalam pembangunan dan pemanfaatan hutan yang berkelanjutan. Untuk itulah, diperlukan peran petugas yang mampu menjadi “Marketer Pesan” agar dapat membangun peran aktif masyarakat yang mandiri dan mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mendukung kebijakan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan.

Kebijakan Kementerian Kehutanan

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan No.P.70/MENHUT-II/2009, kebijakan Kementerian Kehutanan tahun 2009-2014, ditetapkan pada 8 kebijakan, yaitu:

1.      Pemantapan Kawasan Hutan

2.     Rehabilitasi Hutan dan Peningkatan Daya Dukung Daerah Sungai (DAS)

3.     Pengamanan Hutan dan Pengendalian Kebakaran Hutan

4.     Konservasi Keanekaragaman Hayati

5.     Revitalisasi Pemanfaatan Hutan dan Industri Kehutanan

6.     Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Hutan

7.     Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Kehutanan

8.     Penguatan Kelembagaan Kehutanan

 

Berdasarkan 8 kebijakan tersebut, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) memegang peranan strategis dalam mengimplementasikan kebijakan di bidang Pengamanan Hutan dan Pengendalian Kebakaran hutan, serta Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Hutan. Disinilah peran penting “Marketer Pesan” atau Penyuluh Kehutanan yang dimiliki Ditjen PHKA dalam mendukung Kebijakan Kementerian Kehutanan, peran-peran tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan; sosialisasi peraturan perundangan yang terkait dengan kegiatan kebakaran hutan dan pengamanan hutan, mengembangkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pengendalian pemanfaatan jenis, pendampingan dalam mewujudkan kesepahaman dan kesepakatan antar masyarakat/ kelompok dan desa untuk melestarikan hutan, kampanye/ penyuluhan tentang anti pencurian kayu, pendampingan pembentukan dan penguatan kelompok, menjadi fasilitator dalam menggali dan mengenali permasalahan, serta pendampingan usaha produktif  berbasis kehutanan.

 

Peran Penyuluh Kehutanan atau “Marketer Pesan” Yang Ideal di Kawasan Konservasi

Penyuluhan Kehutanan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup (Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006)

Di dalam Undang-undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, disebutkan bahwa penyuluhan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta merubah sikap dan perilaku masyarakat agar mau dan mampu mendukung pembangunan kehutanan atas dasar iman dan taqwa serta sadar akan pentingnya sumberdaya hutan bagi kehidupan.

Berdasarkan tujuan ini, terlihat bahwa seorang penyuluh/ marketer bukanlah sekedar corong informasi, namun memiliki tugas penting dalam meningkatkan kapasitas dan merubah perilaku masyarakat di kawasan kerja untuk dapat berperan aktif dalam mengurangi ancaman terhadap keanekaragaman hayati yang ada, serta untuk terlibat aktif, cerdas dan berdaya dalam kontribusi terhadap pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan.  Selanjutnya, tujuan ini juga menyiratkan bahwa terdapat beberapa karakteristrik penting yang perlu dimiliki secara baik oleh para “Marketer Pesan” atau Penyuluh Kehutanan.

 

1.    Penyuluh sebagai Pengelola Informasi/ Communication Manager.

Penyuluh Kehutanan hendaknya mampu mengelola informasi dan pesan yang akan disampaikan bukan hanya kepada masyarakat akan tetapi juga kepada pemangku kepentingan atau stakeholders (masyarakat, mitra pemerintah dan dunia usaha). Sebagai seorang communication manager, informasi mengenai fungsi kawasan hutan, manfaat dan gangguan terhadap kawasan hutan serta program yang sedang dijalankan harus dikemas secara baik, melalui media penyampaian pesan yang bisa diterima dan dipahami secara mudah oleh stakeholder.   

Seorang penyuluh kehutanan harus mampu menguasai teknik komunikasi dengan baik. Hovland, Janis & Kelley (1953) Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang lain.

Mengelola informasi bagi seorang penyuluh artinya juga harus mampu menangkap 'pesan' yang disampaikan stakeholder; menerjemahkan kepentingan dan informasi dari stakeholder. Informasi yang dikumpulkan ini kemudian disampaikan kepada Unit Pelaksana Teknis kawasan untuk didiskusikan oleh tim teknis dan menjadi landasan rencana pengelolaan kawasan. Hasil kerja tim teknis yang dapat berupa program atau inisiatif baru yang kemudian disampaikan kembali kepada stakeholder agar mendapatkan buy-in atau penerimaan dan dukungan. Sebagai contoh; di suatu kawasan konservasi terjadi perambahan hutan untuk dijadikan sawah, permasalahan ini muncul dikarenakan berbagai penyebab dan latar belakang. Penyebab-penyebab munculnya ancaman inilah yang kemudian disebut sebagai informasi, untuk mendapatkan informasi tersebut Penyuluh Kehutanan dapat mengusulkan kegiatan stakeholder workshop di tingkat lokal, mengadakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara dengan tokoh masyarakat atau pelaku perambahan.

Informasi yang diperoleh  dari kegiatan-kegiatan tersebut perlu dikemas agar sesuai dengan karakteristik khalayak targetnya, kemudian dibawa kepada tim teknis dan didiskusikan untuk menjadi sebuah program atau inisiatif/gagasan yang kemudian dibawa kembali kepada stakeholders. Seperti yang diperkenalkan oleh Chip & Dan Heath dalam buku Made to Stick (2007) agar gagasan melekat dan tahan lama, gagasan tersebut harus menarik perhatian, mudah dipahami dan mengingatnya, dapat dipercaya, mampu menggerakkan khalayak untuk peduli dan bertindak berdasarkan gagasan yang disampaikan.

 

2.    Penyuluh Kehutanan Harus Mampu Menetapkan Khalayak Target yang Jelas  

Salah satu cara menetapkan khalayak target yang jelas adalah melalui segmentasi khalayak. Penyuluh Kehutanan perlu melakukan kegiatan segmentasi khalayak untuk mengetahui siapa khalayak target yang akan dituju, sejauh mana tingkat pengetahuan yang dimiliki khalayak target terhadap pentingnya konservasi dan ancamannya, bagaimana sikap khalayak target dalam berperan serta melestarikan kawasan hutan dan apa saja hambatan yang dimiliki khalayak target untuk melakukan perubahan perilaku yang diinginkan.

Kegiatan ini dapat dilakukan oleh Penyuluh Kehutanan melalui kegiatan survey kuantitatif dan kualitatif, pertanyaan-pertanyaan survey dikelompokkan berdasarkan kebutuhan informasi yang ingin diperoleh, baik demografi, tingkat pengetahuan, sikap dan tahapan perubahan perilaku khalayak target. Khalayak target akan dikelompokkan berdasarkan, aspek geografi, demografi, psikografis dan perilaku.

Hasil dari segmentasi khalayak akan menentukan strategi pengembangan pesan, untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap khalayak target.

 

3.    Penyuluh Kehutanan Harus Mampu Mengembangkan Pesan Konservasi dan Mampu Berperan sebagai Pemasar Program Konservasi/ Marketer

Setelah diketahui siapa khalayak targetnya, kemudian dilakukan kegiatan pengembangan dan pemasaran pesan melalui berbagai materi komunikasi. Strategi didalam pengembangan pesan ditentukan berdasarkan karakter dari kelompok target, sebagai contoh; di suatu daerah yang memiliki latar belakang pendidikan dan kemampuan baca tulis rendah, tidak semestinya mendapatkan poster atau leaflet sebagai media penyalur pesan, akan lebih efektif jika pesan atau informasi disampaikan melalui radio atau dengan kegiatan pertemuan dan pembuatan demplot peragaan.

Dinamika dan kondisi di lapangan sangat mempengaruhi pengulangan pesan atau informasi yang disampaikan, untuk itu penyuluh kehutanan sebagai pemasar/ marketer harus mampu memanfaatkan komunitas yang sudah ada atau membentuk komunitas baru, untuk keberlanjutan adopsi produk sosial/ perubahan yang ditawarkan.

Disinilah peran inti dari seorang penyuluh kehutanan yang dimiliki Ditjen PHKA, dalam membantu mengimplementasikan kebijakan Kementerian Kehutanan. Penyuluh Kehutanan tidak hanya berperan sebagai ujung tombak pra kondisi di lapangan (sosialisasi, penyuluhan), tetapi juga berperan pada saat implementasi program dilaksanakan. Oleh karena itu, Penyuluh Kehutanan harus mampu menciptakan teknik dan metoda pemasaran pesan konservasi yang tepat, menciptakan enabling environment serta mampu mengatur strategi negosiasi, pendampingan dan komunikasi yang tepat sasaran, agar stakeholders  (masyarakat, pemerintah dan dunia usaha) mau berubah perilakunya dan mengadopsi atau “membeli” produk konservasi yang diinginkan.

 

4.    Penyuluh Kehutanan Harus Mampu Berperan Sebagai Fasilitator

Sejalan dengan paradigma kebijakan pembangunan kehutanan yang menitikberatkan pada usaha pemberdayaan masyarakat, sudah selayaknya Penyuluh Kehutanan dapat mengambil peran penting dalam penguatan kelembagaan masyarakat melalui pendampingan kelompok masyarakat yang menjadi khalayak targetnya. Untuk itu diperlukan penguasaan teknik fasilitasi yang baik, agar didalam melakukan pendampingan kelompok masyarakat, Penyuluh Kehutanan mampu mengenali permasalahan yang dihadapi kelompok masyarakat di khalayak targetnya dan mampu mengoptimalkan sumberdaya yang dimiliki.

Dengan demikian, akan tumbuh dan berkembang kelompok-kelompok usaha produktif yang ada di khalayak target, pendampingan dengan menggunakan teknik fasilitator yang baik akan menciptakan kesepahaman dan kesepakatan antar anggota masyarakat/ kelompok dengan pengelola kawasan konservasi. Pada proses inilah penguasaan teknik fasilitasi menjadi penting, status sebagai Penyuluh Kehutanan, yang notabene juga staf di suatu unit pelaksana pengelolaan kawasan, dapat memberikan kesulitan dalam mendapatkan komitmen dan kesepakatan khalayak target. Karena ada kecurigaan dan kecenderungan untuk defensif dalam mengeluarkan ide atau permasalahan yang dihadapi khalayak target. Penyuluh Kehutanan yang baik harus mampu menjadi fasilitator yang unggul.

5.   Penyuluh mampu membangun koordinasi  yang efektif dan strategis dengan berbagai bidang di dalam lembaga. 

 

Tantangan Di Lapangan Bagi Penyuluh Kehutanan

Konservasi dan dampak kerusakan hutan adalah konsep yang seringkali abstrak dan terasa sulit dipahami oleh masyarakat. Konsep konservasi dan kerusakan hutan, tidak sejelas produk mie instan. Perlu kreatifitas, kemampuan mencari informasi, membuka telinga, banyak membaca dan melihat contoh, jika ingin bisa mengemas konsep konservasi menjadi tangible bagi masyarak target.

Tantangan di lapangan yang sering dihadapi oleh tenaga Penyuluh Kehutanan, diantaranya adalah;

1.        Seringkali Penyuluh Kehutanan yang ada belum memiliki kualitas atau kompetensi yang memadai untuk berperan maksimal di lapangan. Akibatnya, dalam menjalankan fungsinya Penyuluh Kehutanan tidak memiliki keyakinan diri atau kalaupun ada, tapi tidak cukup efektif dalam menjalankan fungsinya.

2.        Keterbatasan kesempatan pengembangan kapasitas untuk menjadi penyuluh yang handal, sementara untuk jadi penyuluh yg ideal perlu memiliki karakteristik seperti di atas

3.        Masih minimnya sarana dan alat peraga, menjadi penyebab kurang optimalnya Penyuluh Kehutanan melakukan kegiatan operasional, selain itu keterbatasan kemampuan berbahasa daerah/ lokal yang dimiliki tenaga Penyuluh Kehutanan yang baru, membuat kreatifitas dan kemampuan untuk menggali sumberdaya masyarakat semakin terbatas. Tidak semua masyarakat target memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik, begitupula tidak semua tenaga Penyuluh Kehutanan berasal dari daerah setempat.

 

Penutup

Peran Penyuluh Kehutanan di lingkup Ditjen PHKA sangat penting dalam mendukung kebijakan Kementerian Kehutanan. Penyuluh Kehutanan harus mampu melakukan kolaborasi dan sinergisitas dengan stakeholders lainnya dalam melakukan upaya pengurangan ancaman di kawasan konservasi. Peran pemerintah pusat dalam mengeluarkan kebijakan, dan aturan yang dapat memotivasi Penyuluh Kehutanan, akan mengoptimalkan peran penyuluh di UPT lingkup Ditjen PHKA.

 

Salam,

Indra K

 

Sumber : Modul pembelajaran Pride Campaign RARE, Hari Kushardanto, dan berbagai sumber yang lainnya.

Comments (3)

wiiih, sudah mulai menulis lagi mas indra! mantaaaaaaappsss! ini untuk buletin kantor/kemenhut juga kah?

:) kagak mas, hanya ingin berbagi pengalaman saja, sayang kalau ilmu yang kita peroleh hanya kita saja yang tahu.

Mau pindah haluan Mas....?

Translate Content:

similar campaigns

  • Asia
  • Mammal