RarePlanet.org, as you know it, will retire in spring, 2014. Please visit www.rare.org for new and improved content and subscribe to the e-newsletter for continued Rare stories and updates. Thanks for your contributions. We look forward to hearing from you on Rare.org!

Negosiasi & Resolusi Konflik untuk Program Konservasi Alam (bahasa Indonesia)

Grup ini memuat dan mendiskusikan berbagai tips dan artikel mengenai "prinsip dasar dan ketrampilan negosiasi dan resolusi konflik" terutama dalam konteks pekerjaan kita yaitu konservasi sumber daya alam dan ekosistem nya.

Rekan-rekan kami harapkan dapat aktif berkontribusi baik dengan mengajukan pertanyaan atau pun memberikan contoh-contoh kasus yang pernah dialami dan cara-cara strategis yang pernah ditempuh, sehingga kita semua bisa saling belajar antara satu sama lain.

Diskusi dan pertanyaan mengenai hal-hal yang terkait dengan negosiasi dan resolusi konflik dapat diajukan melalui forum, atau pun dikirimkan melalui email kepada:   swirawan@rareconservation.org, dengan subyek/judul email: "Negosiasi". Partisipasi rekan-rekan sangat penting bagi pembelajaran kita semua!

 

MAJU TERUS!

Sari

What's Happening

link

Call for Participants: Lead Associate Training Cohort 16

http://lead.or.id/   Call for participants: LEAD Associate Training Cohort 16 Green Economy: Exploring Paths for Vibrant Future (May – September 2011)    LEAD Indonesia, diselenggarakan oleh Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YPB), telah melaksanakan program LEAD Associate Training sejak tahun 1992. Program ini menawarkan pelatihan selama 20 hari tentang kepemimpinan untuk pembangunan berkelanjutan yang dikemas secara unik. Mereka yang lulus dari program ini disebut LEAD Fellow dan akan menjadi bagian dari salah satu jaringan paling beragam profesi di dalamnya. Saat ini terdapat lebih dari 2000 LEAD Fellows dari 90 negara, dimana 212 orang diantaranya berasal dari Indonesia. Mereka berasal dari dunia akademis, bisnis, pemerintah, media dan LSM. Saat ini kami membuka kesempatan bagi mereka yang tertarik untuk menjadi peserta LEAD Associate Training (LAT) Cohort 16 dengan tema “Green Economy: Exploring Paths for Vibrant Future”, yang dilaksanakan dalam serangkaian Sesi Nasional selama 20 hari (di Jakarta, Mei – September 2011) dan 7 hari untuk Sesi Internasional (di Ottawa, Kanada, Oktober, 2011). Para profesional jenjang menengah dari sektor Pemerintah, sektor bisnis, LSM, Akademisi dan Media yang memiliki visi membawa perubahan diundang untuk bergabung dalam kesempatan ini sebagai peserta pelatihan untuk kemudian menjadi LEAD Fellow.   Melalui training ini, peserta akan memperoleh pemahaman mengenai penanganan isu green economy pada abad 21, dan hubungannya dengan dampak perubahan iklim dan peluang strategi mitigasi dan adaptasi dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Lebih kritikal lagi, peserta pelatihan akan mendalami nilai dan preposisi kepemimpinan dalam isu-isu tertentu. Lebih dari sekedar training, peserta juga akan terlibat dalam proyek intensif, LEAD Associate Project, dalam kelompok yang terdiri dari berbagai latar belakang dan keahlian, untuk menghasilkan rencana tindakan baik dalam rekomendasi kebijakan, studi kasus atau hasil penelitian awal untuk penelitian dengan skala lebih besar di masa depan. Hasilnya dibagikan diantara peserta, institusi peserta dan LEAD Indonesia.   Peserta yang mengikuti pelatihan secara penuh pada skala nasional dan memenuhi batasan standar akan mengikuti jaringan LEAD Fellows secara global. Sejumlah peserta terbaik akan disponsori untuk mengikuti sesi internasional di Ottawa, Kanada dimana mereka akan bertemu dengan peserta dari 13 kantor Program LEAD – Canada, Afrika, Amerika Latin, Eropa dan Asia. Pada sesi internasional, mereka akan mempelajari perspektif global terkait pembangunan berkelanjutan dengan fokus pada isu green economy dan perubahan iklim. Ini merupakan “energi” yang mengisi jiwa dan pikiran, menginspirasi untuk menantang diri sendiri dan orang lain. Biarkan tema Cohort 16 ini memompa semangat anda dan bersiaplah untuk membawa perubahan pada pembangunan berkelanjutan untuk dunia yang lebih baik!   Aplikasi diterima paling lambat 31 Maret 2011.   Aplikasi, Informasi Umum dan Kurikula Pelatihan LEAD Associate Training Cohort 16 dapat diunduh dari www.lead.or.id   Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengirim email ke inquiry@lead.or.id atau Telepon 021 – 7695491 atau 75816941 (dengan Gita Meidita / Lisa Savitri)

document

Ikut Bergabung

Salam..

Saya dari Bogor4 ikut bergabung..walaupun baru selesai pada fase i di kelas, saya tertarik dg grup ini sebagai pembelajaran dari teman2 yg sudah menikmati asam garam negosiasi dan konflik antisipasi kampanye kelak (sedia payung sebelum hujan hehe)...salam kenal tuk rekan2 semua..

Senangnya Masyarakat Babual Baboti Mulai Menyemai Jelutung dan Berladang Menetap

Pangkalan Bun, 11 Januari 2010. Tiga bulan lalu saat saya melakukan kunjungan ke desa Babual Baboti hanya baru 4 orang yang menyemaikan jelutung.Ada yang menyemaikan sudah setinggi 20-25 cm.Ada juga yang sudah menanam. Dari pertemuan tiga bulan lalu saya juga mendengar komitmen warga untuk berladang menetap.
Hasilnya Desember 2009, saat tim kami melakukan monitoring ke lahan-lahan pertanian masyarakat di tiap dusun di desa Babual Baboti masyarakatnya sebagian telah melakukan perladangan menetap dan mulai ada yang menyemai jelutung. Saya sempat menghitung jajaran biji yang telah mulai tumbuh akar kailnya itu sebanyak lebih dari 300 polibag. Mereka swadaya membeli polibag karena ingin sekali membudidayakan jelutung selain karet.
Ladang kebunnya yang menetap sudah dekat dengan rumah-rumah mereka. Walau sebagian masih membakar. Untuk himbauan mengurangi pembakaran, kami melakukan pendekatan pelatihan pembuatan sekat bakar. Masyarakat mulai memahami dan takut tanaman mereka yang sudah besar ikut terbakar. Dan mereka ingin juga bertani dengan hasil yang baik. Mereka menanam sayuran yang sudah dengan membuat bedengan, dipagari untuk menghindari gangguan binatang ternak dan binatang liar, tidak jauh dari rumah, mulai menanam pola campuran (sayuran, dipadu pisang dan karet). Senangnya melihat beberapa perubahan di masyarakat. Kami akan terus memonitor berapa besar jumlah petani yang berladang menetap dari jumlah yang ditargetkan. Tapi ini titik awal perubahan dari kampanye kami selama ini di desa Khalayak target.

audio

Himbauan Bupati-Lestarikan SM Sungai Lamandau dengan Berladang Menetap Hemat di Lahan Sendiri

Pangkalan Bun, 31 Desember 2009. Bupati salah satu tokoh terkemuka yang saat survey tingkat kepercayaan paling tinggi jika mendengar himbauan atau ajakannya. Salah satu strategi media pemasaran yang dibuat dikemas sebagai spot iklan versi himbauan ini harapannya akan lebih efektif menjangkau penyadaran masyarakat sekitar SM Sungai Lamandau.

Kenapa Harus Air..?

Pangkalan Bun, 30 Desember 2009.SM Sungai Lamandau kawasan yang menjadi urat-urat air ke desa sekitar. Apa yang akan terjadi saat urat air hilang, ibarat urat nadi putus. Seperti suplay darah yang di pompa jantung berhenti. Air salah satu kebutuhan manusia. Perlu diketahui kadar air yang normal dalam tubuh manusia berkisar antara 70 hingga 80 % dari bobot tubuh. Di dalam tubuh, air sudah seharusnya mengalami proses absorpsi di usus halus, reabsorpsi di usus besar, juga mengalami proses pengeluaran melalui kelenjar keringat dan saluran urin/kencing.
Kadar air dalam tubuh harus selalu seimbang pada kadar normalnya. Bila terjadi suatu keadaan di mana kadar air di dalam tubuh turun dari kadar seharusnya, maka tubuh secara langsung akan meminta penggantian kadar air yang hilang dan oleh sebab itulah kita memerlukan minum. Demikian pula halnya jika saat kadar air sudah lebih dari cukup, maka tubuh akan mengeluarkan kelebihan air itu melalui saluran urin. Jika kehilangan kadar air tidak segera diganti, maka kadar air tubuh akan semakin turun sehingga kadarnya di bawah kadar normal dan tubuh akan mengalami dehidrasi (kekurangan cairan). Secara fisik manusia bisa hidup tanpa air alias menahan haus hingga maksimal 3-5 hari. Air adalah sumber kehidupan mari jaga sisa hutan Kalimantan dan bangga memiliki kawasan SM Sungai Lamandau. Saya bangga sebagai putera daerah memiliki kawasan ini.  

Banyak nama, Namun Satu yang Khusus untuk Anda

Pangkalan Bun, 29 Desember 2009. Banyak nama Billy yang kita kenal. Billy the kid, Billy pengamen jalanan, Billy pencukur rambut, pemilik cafe dan masih banyak lagi. Namun tidak dengan Billy yang satu ini. Namanya hanya Bili, nama dari burung Rangkong yang hidup di SM Sungai Lamandau. Memang secara pasti tidak ada Rangkong bernama Bili di SM Sungai lamandau. Bili ini adalah nama simbol/maskot yang dibuat untuk kampanye Bangga SM Sungai Lamandau.

Seekor burung rangkong yang tak bisa terbang, di dalamnya orang-orang bergantian memakainya, maklumlah si Bili hanya Kostum. Metode ini dilakukan agar tiap kunjungan yang kami lakukan lebih terasa bermakna. Bunyi tanpa makna apalah arti ungkap sang bijak sikutu buku. Dalam kunjungan di tahun 2009 Bili telah mengunjungi belasan sekolah dan berbagai tempat umum.

Dalam kunjungannya Yayorin keberbagai Desa, Sekolah terkesan anak-anak dan warga lebih antusias ketika Billi menghampiri mereka, selain Bili ada tokoh lain yakni Paman Win siorangutan jantan, Bibi Siswi siorangutan betina juga sam si orangutan. Ketika dilihat dari beberapa kesan si pemakai kostum tersebut, meski lelah dengan keringat bercucuran, mereka bangga akan beberapa Maskot yang sedang diusung.

Upaya sosialisai ini harus terus dilakukan. Apalah artinya reta-reta kunjungan apabila terpisah dari masalah lingkungan. Dengan maskot yang tidak segan menghiasi suasana sosialisasi kami berharap bahwa kita semua makin merasa memiliki SM Sungai Lamandau.

Di kota bisa dihitung dengan jari jumlah pemilik tanah sampai hektaran, namun di sini masih banyak yang memilikinya. Meski pola berladang berpindah semakin sedikit, kita semua perlu membuat strategi yang lebih efektif tentang berladang. Kehidupan esok memang makin berat dan melelahkan, namun jika tidak dari sekarang kita sendiri yang mengupayakan mimpi kita. Maka percayalah bahwa diujung hidup kita hanya jadi penonton.

Mari bersama-sama saling mengingatkan untuk kehidupan kedepan yang lebih berkualitas, tanpa menjual lahan, tanpa mengeluh, dengan tingkah laku bukan kata. Bumi ini akan cukup untuk bermilyar-milyar umat manusia, tetapi tidak akan cukup untuk satu orang yang rakus. Selamat bangga dengan dirinya sendiri untuk menebarkan virus-virus cinta lingkungan.

Salam Lestari..
Fadlik Al Iman

UNTUK MENDAPATKAN TUJUAN DAN PROGRAM KELOMPOK MELALUI LOKAKARYA KONSENSUS DESA

            Seperti yang diketahui, permasalahan utama masyarakat di desa target Kampanye Bangga  adalah masalah ekonomi dan rendahnya tingkat pengetahuan dalam pengelolaan lahan pertanian yang baik, sehingga hutan menjadi alternative bagi masyarakat desa untuk memenuhi kebutuhan. Oleh sebab itu perlu dilakukan peningkatan perekonomian masyarakat dan peningkatan pengetahuan masyarakat melalui suatu pembentukan kelompok masyarakat credit union sebagai pendukung bagi program Kampanye Bangga.

            Dalam kelompok tersebut tidak hanya dilakukan simpan pinjam kelompok saja, tetapi juga akan dilakukan kegiatan-kegiatan kelompok yang berbentuk suatu kegiatan belajar bersama yang dilakukan oleh anggota kelompok dengan cara menggali permasalahan yang ada di kelompok tersebut untuk kemudian dibahas bersama dalam kegiatan belajar bersama tersebut.

            Dalam Kampanye Bangga, masyarakat diharapkan bisa mempunyai rasa bangga terhadap desa mereka. Oleh sebab itu C.U adalah suatu solusi untuk mengatasi permasalahan masyarakat desa, sehingga dengan hal tersebut tujuan dari kampanye bangga dapat terwujud. Namun masyarakat belum mengetahui bagaimana C.U bisa berjalan, oleh sebab itu masyarakat perlu diberikan suatu pembekalan pengetahuan untuk menjalankan C.U tersebut. Selain itu juga perlu diadakan suatu kesepakatan kelompok tentang kegiatan belajar yang akan dibahas dalam kelompok C.U tersebut dalam 1 tahun kedepan, sehingga perlu diadakan lokakarya consensus yang dilakukan di masing-masing kelompok.

            Lokakarya consensus untuk kelompok di 4 desa (Sugi Jae, Sugi Julu, Janji Manaon, Aek Nabara) kecamatan Marancar Kab. Tapanuli Selatan berlangsung dari tanggal 14 november hingga tanggal 21 november 2009. Seharusnya target untuk pelaksanaan lokakarya kelompok tersebut adalah 7 malam, namun karena kendala-kendala yang dialami sehingga lokakarya tersebut berlangsung agak lebih lama dari target yang dijadwalkan (berakhir tanggal 24 November 2009). Kendala-kendala yang dimaksud adalah kendala cuaca, beberapa hari di lokasi kerja sering terjadi hujan deras dan berlangsung lama, sehingga langkah terhalang untuk melakukan kegiatan lokakarya di kelompok-kelompok tersebut, lain lagi permasalahan listrik yang padam. Permasalahan listrik yang padam adalah kendala yang paling utama, karena pertemuan untuk lokakarya kelompok di 4 desa dilakukan pada malam hari, sehingga apabila listrik padam, maka pertemuan kelompok untuk lokakarya tidak bisa dilaksanakan.

            Pertemuan lokakarya consensus yang dilakukan terhadap kelompok-kelompok di 4 desa tersebut dilakukan untuk menentukan arah tujuan dan program kerja pembentukan kelompok-kelompok tersebut. Tujuan kelompok yang dimaksud merupakan kegiatan-kegiatan untuk belajar mengatasi permasalahan masyarakat desa yang akan dilakukan oleh setiap kelompok di desa masing-masing dalam satu tahun kedepan.

            Lokakarya yang pertama dilakukan di desa Sugi Jae, dari beberapa masalah yang didapat dari desa ini, maka anggota kelompok sepakat untuk memilih pembuatan pupuk kompos adalah kegiatan prioritas 1 tahun ke depan. Pembuatan pupuk kompos adalah salah satu upaya kelompok untuk mengatasi masalah harga pupuk yang dianggap terlalu mahal dan rusaknya struktur tanah, dan menjadi salah satu permasalahan yang dianggap cukup penting dari beberapa permasalahan lain yang ada desa. Yang paling penting dari lokakarya yang dilakukan di desa Sugi Jae masyarakat sudah memahami tujuan terbentuknya kelompok di desa mereka.

            Setelah dari desa Sugi Jae, lokakarya dilakukan di desa Sugi Julu. Di desa ini pemahaman masyarakat tidak seperti di desa sebelumnya. Masyarakat di desa ini tidak bisa memunculkan inisiatif untuk mengatasi masalah yang ada di pedesaan mereka. Ada dua masalah dari beberapa masalaha pokok yang ada di desa mereka dan dianggap paling penting untuk segera diatasi. Permasalahannya adalah binatang liar yang sering merusak kebun mereka. Namun mereka lebih memilih untuk meminta senjata senapan angin kepada kami untuk mengatasi masalah tersebut, sungguh permintaan yang tidak mungkin kami jawab. Kemudian mereka mengatakan jalan ke kebun mereka rusak, sehingga perlu adanya perbaikan agar akses ke kebun lebih mudah dilalui. Mereka membuat suatu penyelesaian dengan cara gotong royong sesama anggota kelompok serta melibatkan setiap orang yang bukan anggota kelompok apabila orang tersebut memiliki kebun yang melalui jalan tersebut. Dan kegiatan tersebut juga sangat sulit kami terima karena tidak ada nilai konservatifnya. Kami coba alihkan ke masalah bibit dan pupuk, tetapi mereka tetap mengatakan dua hal di atas adalah masalah yang paling utama di desa mereka. Sungguh sangat sulit terasa pada saat itu, karena selain kurang pemahaman anggota kelompok, masukan atau pendapat dari anggota kelompok terkadang sangat sulit untuk terima.

            Setelah pertemuan malam pertama berlangsung dengan menciptakan pemahaman bersama terlebih dahulu, dan dihari kedua pertemuan lokakarya ini berjalan lebih mudah dan terarah. Mungkin ini hasil dari kerja keras kemarin malam yang memberikan masukan dan dukungan dari lembar fakta yang kami sebarkan terdahulu. Akhirnya desa Sugi Julu memiliki program kerja untuk melakukan mitigasi satwa (Macaca dan Babi Hutan) dengan program penanaman pohon buah, atau memagari kebun dengan tanaman bamboo. Dengan terlebih dahulu melakukan pembibitan tanaman buah dan bamboo untuk ditanam di batas hutan dan kebun.

            Setelah dari desa Sugi Julu, malam berikutnya kami berangkat ke desa Janji Manaon untuk melakukan lokakarya yang sama di desa tersebut. Ada beberapa anggota baru di desa ini yang masuk. Namun hujan deras membuat anggota yang hadir tidak banyak. Namun ada beberapa hal positif di desa ini, yaitu masuknya anggota baru, dan anggota tersebut salah satunya adalah seorang guru, dan beliau walaupun baru masuk ke anggota, namun Ia mampu untuk memahami maksud kami dan menyampaikan kepada anggota lain, sehingga pada saat itu di dapat tujuan kelompoknya, walaupun pada saat itu dalam kondisi mati lampu. Kelompok pada saat itu memilih untuk melakukan kegiatan membuat bibit (coklat) unggul di desa mereka. Karena mereka mengatakan bahwa tanah di desa tersebut sudah cukup subur, namun bibit yang kurang baik membuat hasilnya juga kurang baik, oleh sebab itulah mereka membuat inisiatif untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan pembibitan unggul sendiri di desa mereka.

            Berikutnya kami bergerak ke desa Aek Nabara, pertemuan di desa ini dilakukan di rumah bapak Somad Siregar, kepala desa terpilih di desa tersebut untuk periode 2009 s/d 2014. Kegiatan lokakarya sebenarnya berjalan sangat baik dan terarah. Namun pada saat pertengahan acara bapak Kades ikut serta dalam acara tersebut dan mempengaruhi kelompok. Pada awalnya kelompok focus untuk kegiatan pembibitan, pembuatan pupuk kompos dan pembasmian hama, karena masalah yang dianggap paling utama menurut anggota kelompok adalah ketiga hal tersebut. Namun masuknya Kades perhatian anggota kelompok langsung tertuju kepada pernyataan kades tersebut. Kades minta bibit unggul untuk langsung bisa ditanam di kebun-kebun. Selain itu ia juga mengatakan alat-alat pertanian perlu didatangkan agar membantu mengurangi beban berat masyarakat desa. Namun kami kembali mengatakan kepada mereka bahwa kami datang bukan untuk memberi bantuan langsung, melainkan untuk membentuk kelompok masyarakat yang mandiri yang mampu menyelesaikan masalah sendiri. Peran kami hanya untuk menjadi media untuk membantu peningkatan pemahaman mereka sehingga mampu keluar dari masalah tersebut. Akhirnya angota kelompok sepakat untuk kembali kepada kesepakatan yang pertama.

 

Persiapan adalah Bagian dari Perjuangan




Negosiasi ditentukan berhasil dan kegagalannya bahkan sebelum percakapan sesungguhnya terjadi, melalui kualitas PERSIAPAN yang dilakukan -- apa? lagi-lagi perencanaan...? Oh,tidak! sudah cukup dengan desain kaleidoskop, sudah cukup rencana kegiatan, ada banyak kegiatan lain yang lebih penting dilakukan, bertemu kepala desa, diskusi dengan kelompok karang taruna  ---- mungkin itu yang ada dalam lubuk hati terdalam ...

Apakah itu Negosiasi?

Pernahkan Anda berada dalam situasi dimana Anda harus membujuk anak Anda untuk tidak membeli mainan yang mahal? atau menawar harga ketika berbelanja untuk keperluan Lebaran lalu? ini adalah contoh negosiasi dalam kehidupan keseharian kita.

Translate Content:

similar groups

  • Asia


  • group members

    sunflower.jpg
    100_4511.JPG
    dsc_0465-300x199.jpg