RarePlanet.org, as you know it, will retire in spring, 2014. Please visit www.rare.org for new and improved content and subscribe to the e-newsletter for continued Rare stories and updates. Thanks for your contributions. We look forward to hearing from you on Rare.org!

Raden Soerjo Grand Forest Park, East Java

Blog

Cerita dari Gunung Arjuna -by Agus Wiyono

Cerita dari gunung ArjunaTapak-tapak perjalanan “Kampanye Bangga” –ku

Mengapa aku jatuh cinta pada Pride Campaign

Sudah lebih dari 10 tahun sejak tahun1995 saya bekerja di Lembaga swadaya Masyarakat yang mengkhususkan pada isu pendidikan lingkungan danpemberdayaan masyarakat yang tujuan akhirnya adalah perubahan perilaku. Berbagai ilmu pengetahuan serta bentuk-bentuk pendekatan dalam proses menjalankan semua aktivitas pendidikan selalu berkembang. Namun saya masih merasa ada yang kurang walaupun juga sering mengikuti jenis-jenis pelatihan disana-sini.  Terakhir saya mendengar istilah Pride campign yang menggunakan pendekatan sosial marketing. Awalnya kata orang-orang yang telah mengenal Pride campign bahwa metode tersebut identik dengan panggung boneka, costum, poster atau media sejenisnya. Tetapi setelah saya memperdalam sendiri metode tersebut, saya menilai anggapan orang-orang tadi terlalu dangkal.

Metode pride yang baru saya dapatkan sangat melengkapi kemampuan serta pendewasaan saya dalam menganalisa , merumuskan dan mendesain program yang lebih bijak. Karena dalam dalam metode ini semua di harus memahami secara menyeluruh terhadap semua aspek yang terkait dengan dunia kerja kita. Sebelumnya saya sering melakukan analisa dan membuat desai program tetapi tidak mendalam, hanya permukaan dan parsial, serta jarang ada kesinambungan. Metode Pride telam membantu saya terutama dalam mendesain program-program yang berjangka lebih panjang dan yang penting adalah mendorong untuk semakin mengedepankan cara-cara partisipasif dalam membangun kemandirian masyarakat.

Keharusan Membangun kolaboratif para pihak menjadi warna yang kental dalam metode ini. Peran media baik cetak maupun elektronik yang selama ini kurang saya perhitungkan, tetapi begitu mamsuki program pride, hal ini suatu keharusan. Saya tersadarkan betapa menggandeng peran Media sangat penting.

Satu lagi yang unik dalam pride campign ini adalah bahwa semua manager kampanye dibekali dengan keilmuan yang bisa dipertanggung jawabkan. Kuliah 11 minggu di IPB sangat memberikan dampak nyata dalam memberikan landasan teori terhadap hal-hal yang saya lakukan di lapangan bersama masyarakat.  Berbagai mata kuliah seperti Hukum dan perundangan Konservasi, konservasi biodiversity, Habitan dan ekologi, serta Pendekatan sosial dalam konservasi ternyata telah membangun kedewasaan saya dalam membuat analisa semua fenomena. Terlebih dengan Workshop-workshop dan praktek-praktek langsung selama di kampus IPB, merupakan bekal yang sangat berharga begitu saya kembali ke masyarakat untuk menerapkan program.

Program pride ini terkenal dengan proses monitoring yang rapi. Konseling dari pembimbing baik dosen IPB maupu staf Rare baik jarak jauh atau bimbingan dilapangan langsung  selama saya menjalankan pride di lapangan sangat membantu menjawab atau memberi solusi segala hambatan dan tantangan , dan terkadang ide-ide segarpun muncul setelahnya..  Tetapi yang terpenting dalam metode monitoring yang rapi ini, dampak yang paling saya rasakan adalah selalu terjaga dan hidupnya semangat, motivasi, komitmen saya selaku manager kampanye. Ini yang belum saya dapat dari Program Lain. Bahkan saat ini saya menerapkan management kampanye pride ini ke dalam organisasi saya dalam rangka pengembangankapasitas organisasi, mulai dari membuat perancanaan, analisa masalah, membuat obyektif yang SMART, pengorganisasian serta proses monitoring. Saya merasakanhasil yang luar biasa walaupun harus ditebus dengan stresnya, atau keluahan sebagiankecil anggota tim saya.

Metode Pride ini memang sangat berat, yang pasti sangat menyita waktu dan energi kita. Bagi saya semua bisa lalui karena adanya dukungan keluarga, masyarakat dan organisasi saya Kaliandra.

BUKAN METODE YANG PALING SUPER. Pride Campaign dengan metode sosial marketing ini bukan merupakan metode yang paling super. Pasti masih memilki banyak kelemahan apalagi kalau waktunya tidak proporsional. Untuk itu tetap saja kita harus bisa berinovasi untuk mengkolaborasikan dengan metode yang lain. Misalnya Pride ini tidak bisa menjawab masalah atau isu-isu ekonomi, untuk itu kalau ada masalah atau isu ekonomi selama kampanye kita, maka kita harus kombinasi dengan metode lain misalkan metode yang mengarah ke program micro finance. Paling tidak tahapan Pride ini telah memberikan data autentik kepada kita , sehingg memeudahkan kita untuk membuat perencanaan ke depan serta kita harus berintervensi dari mana.

Antara IPB,Hutan gunung Arjuna dan masyarakat di sekelilingku Semenjak saya lulus S1 dari IKIP Surabaya, tidak pernah terbersit sedikitpun di otak saya unutk kuliah lagi apalagi setara S2. Tetapi saya sadar bahwa meningkatkan kapasitas diri itu penting walau tidak harus lewat bangku kuliah. Jadi begitu dalam Pride ini mensyaratkan saya harus kuliah lagi, pada awalnya saya pesimis, dan merasa minder. Apalagi dari awal status saya yang lulusan IKIP sempat dipermasalahkan oleh IPB, saya tambah antipati dengankuliah. Untung banyak teman yang memotivasi dan menyadarkan saya sehingg pada akhirnya saya ke universitas lagi.

Pra kampanye

Saat kembali ke site-ku, jujur saja saya masih terfokus dengan pikiran-pikiran program apa yang akan saya jalankan nanti. Saya belum begitu menyadari bahwa sebelum menjalankan program atau aktivitas lain maka persiapan atau perencanaan adalah satu hal yang paling mendasar yang akan menjadi kunci keberhasilan Kampanye Pride.

Observasi lapangan, mencari data primer dan sekunder baik melalui FGD, stake holder workshop, survey, maupun lobiying dengan beberapa tokoh kunci adalah semua aspek yang harus kita rancang secara matang pelaksanaanya, ingat SECARA MATANG DAN SUNGGUH-SUNGGUH. Begitu juga dengan pemetaan para pihak.

Mengapa kita perlu mengumpulkan data baik potensi, ancaman, peluang, pendapat semua stakeholder dsb karena kita akan membuat skenario progran yang terpadu. Data-data dari sumber yang berbeda akan saling melengkapi data kita sehingga memungkinkan membantu  membuat  analisa dan kesimpulanyang obyektif.

Observasi lapangan, study literatur dan FGD merupakan penggalian informasi tingkat awal. Kumpulan informasi ini akandijadikan acuan dalam stakeholder workshop. Stakeholder wokshop yang peserta merupaka representativ dari tiap stakeholder diharapkan bisa memberikan sebuah justifikasi terhadap sumber utama ancaman lokasi, ancaman skunder dan seterusnya termasuk menilai tingkat ancaman dengan matrik rangking sehingga bisa menentukan skala prioritas penanganan.

SARAN SAYA, berdasarkan pengalaman tim kami maka dalam melakukan stakeholder workshop ini kita harus benar-benar netral karena kita berhadapan dengan banyak kepentingan. Ini biasanya sulit kita lakukan karena biasanya kita sudah terbiasa idialis dengan pandangan kita. Tapi kita harus mencoba bagaimana melihat kepentinganpihak lain. Kenetralan kita dalam memfasilitasi stakeholder workshop akan sangat menentukan motivasi peserta. Pasti ada pihak-pihak yang tidak mau bersuara karena minoritas, merasa diadili, sehingga mau atau takut. Misalkan kalau ditempat saya tukang pembuat arang, dalam forum itu mereka pasti manjadi pihak yang tertuduh. Nah bagaimana kita menciptakan suasana agar hal itu tidak terjadi.

Pengalaman saya adalah bagaimana memanfaatkan sesi-sesi non formal untuk menggali / meloby mereka sehingga kita pun dapat informasi. Selain itu setelah proses stake holder workshop selesai kita harus secepatnya pendekatan mereka untuk menjelaskan hal-hal yang lebih detail yang sudah pasti tidak mereka pahami dalam workshop. Kalau bisa secepatnya berselang 1 hari maksimal karena pengalaman saya yang baru 3 hari memberikan penjelaskan kami sempat di demo oleh pembuat arang karena menurut mereka kami hanya akan menjadi organisasi yang memusuhi mereka dan merusak kehidupanya. Tetapi setelah kami jelaskan secara detai akhirnya mereka bisa mengerti, seandainya tidak terlambat pasti akan lebih baik sehingga tidak ada luka sebelumnya.

SARAN SAYA KE DUA . Dalam proses stake holder workshop janganpernah kita memberikan janji-janji kepada masyarakat/peserta workshop. Biarlah mereka secara partisipatif menentukan sendiri prioritas yang bisa dipecahkan. Kita tetap memfasilitasi saja serta membantu meningkatkan kemampuan untuk mendukung kualitas kampanye.

SARAN SAYA KETIGA. Saat masuk ke pada komunitas yang berbeda-beda saya selalu menggunakan motto ini “ masuk pintu mereka keluar pintu saya”. Maksudnya netralitas tetap harus dijaga dan jangan menggurui. Hormati adat, kebiasaan, dan budaya. target yang akan kita datangi. Atur stretegi tim, siapa harus mengunjungi siapa ( baca learning Style model), pakaian kita, bahasa dll. Jangan takut dulu sebelum mencoba, karena kalau sudah takut sebelumnya maka 70% kemampuan hilang. Ingatlah bahwa tujuan / misi kita adalah mulia jadi tidak ada yang harus kita takutkan.

SARAN SAYA KE EMPAT. Tim kerja harus solid. Janganhanya mengandalkan tim kerja dari organisasi anda saja karena hal ini akan memicu egoisme dan cemburu. Sebaiknya melibatkan volunteer lokal sebanyak-banyaknya mulai dari proses awal. Janganjuga menjanjikan materi kepada volunter supaya motivasi mereka tetap murni. Penting dipertimbangkan tingkat keterwakilan volunteer baik dari golongan hitam dan golongan putih.

SURVEY

Hasil survey merupakan salah satu bahan dasar untuk menentukan intervensi program apa dapam kampanye. Untuk itu pelaksanaan survey harus dijalanjan dengan sangat serius. Dalam merancang pertanyaan –pertanyaan qoestioner harus cerdas artinya secara content mewakili informasi apa yang harus kita dapatkan, disusun dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh surveyor, waktu tidak terlalu panjang, jangan bias dsb. Dapam pelaksanaan survey apabila dibantu oleh volunteer maka monitoring atau supervisi harus ketat. Pengalaman ada 20% quisioner yang diisi oleh enumerator sendiri dan akhirnya kita kerja mengulang dua kali. Ingat di Pride ini merupakan satu metode yang sangat terukur, yang salah satu cara mengukurnya melalui perbandingan survey sebelum dan sesudah kampanye. Maka dari itu proser survey dengan kuisioner menjadi hal yang harus diperhatikan dengan baik.

Kampanye

Dengan bantuan banyak piah terutama mas Hari dan mbak Sari maka kami bisa menyelasaikan dokumen Pride Campaign untuk PengembanganPengelolaan Hutan Secara Kolaboratif di Tahura R. Soerjo gunung Arjuna.

Banyak hal yang menyebabkan keterlambatan dalam menyelesaikan dokumen. Diantaranya suasana persiapan Pilkada dan Pilkades menyebabkan beberapa rencana mundur.

Dari 4 obyektif yang dibuat berdasarkan ancaman utama, kami berhasil membuat 42 alat untuk pendekatan. Dari 42 alat tersebut secara garis besar mengerah kepada peningkatanpenegathuandan pemahan terhadam Tahura itu sendiri, kedua peningkatan kapasitas organisasi masyarakat, peningkatan partisipasi dan aksi, serta menguatan regulasi lokal dalam pengelolaan sumber daya hutan.

Peningkatan pengetahuan dan pemahaman

1.      MATERI CETAK . Boklet, facsheet, lembar dakwah, panggung boneka, kostum, pin merupakan paket standar kampanye kami. Alat-alat tersebut sangat membantu memberikan pengetahuan terhadap makna Tahura dan fungsinya. Saran saya  alat-alat tersebut harus dikawal melalu aktivitas yang lain misalkan worksho, lomba, pelatihan, pertunjukanatau yang lain, jadi jangan menjadi kegiatan yang parsial atau sekedar menyebarkan, JANGAN SEKEDAR MENYEBARKAN.

2.      SUKET TEKI . Ini nama sebuah grup musik dari seniman lokal. Awalnya anak-anak muda yang tergabung dalam Suket  Teki tidak punya nama, tidak punya karakter, tidak punya pendidikan tinggi ( rata-rata SD tidak Lulus), dan  tidak punya kebanggaan. Setelah mendapat dampingan dari Tim Pride mereka bisa mencipta 3 lagu konservasi versi dangdut sekaligus kami hantar ke dapur rekaman. TAHURA, REBOISASI, DAN GUNUNG GUNDUL, lagu-lagu itulah yang selama kampanye bahkan sampai saat ini sering berkumandang di tengah masyarakat. Kebanggaan kami terhadap Suket Teki adalah Komitmen mereka untuk terus berkampaye dengan 3 lagu kebanggaannya. Bahkan tanpa kami duga sebelumnya bahwa mereka telah menjelma menjadi agen berubahan, khususnya di dunia remaja.

SARAN SAYA, bahwa kampanye dengan lagu adalah sebuah metode yang menggembirakan dan sederhana namun hasilnya bisa dahsyat. Jadi sebaiknya dalam melakukan maping stake holder harus dilakukan dengan baik. Kedua usahakan sebaik mungkin untuk bisa berkolaborasi dengan sumberdaya lokal, jangan terlalu tergantung dengan teknologi alat-alat yang canggih yang hanya akan menyebabkan ketergantungan.

3.      KARNAVAL KONSERVASI. Istilah karnaval sangat populer dimana-mana dan bukan merupakan hal baru. Tapi karnaval dalam kampanye pride saya merupakan ajang ujian terhadap masyarakat target tentang pemahaman mereka terhadap konservasi. Apakah semua meteri cetak dan sebagainya memberi pengaruh atau tidak didinilah diuji. Mulai pagi itu semua kelompok masyarakat yang di pimpin RT nya masing-masing menyiapkan segala macam atraksi yang akan ditampilkan untuk pawai. Ada yang membuat poster, ada yang membuat peraga untuk aksi teatrikal kegiatan masyarakat di hutan, ada yang menyiapkan kustum dan kesenian tradisional. Apa yang mereka peragakan ternyata terjemahan materi-meteri kampanye yang ada di materi cetak serta informasi lain.

SARAN SAYA, metode ini efektif, satu kali kegiatan ditonton oleh sekitar 3000 orang. Yang paling penting banyak orang terlibat sebagai pelaku kampanye, mereka mau berswadaya adalah ukuran kesadaran mereka, jadi sebaiknya kalau mau menggunakan metode ini buatkah skenario dengan melibatkan tokoh-tokoh kunci di masyarakat. Pengalamkan saya dengan para RT, tokoh pemuda, tokoh kesenian, perangkat desa, dan kelompok perempuan maupun Sekolah setempat.

4.      FUN KOMPETISI DAN KONSERVASI. Beberapa perlonbaan yang ringan tetapi menyenagkan bisa mengundang kehadiran banyak orang. Jadi bisa mengefektifkan kampanye kita. Kompetisiyang saya buat diantaranya Lomba sepak bola plastik yang dilaksanakan tiap selama 6 minggu. Dikuti oleh 25 desa dan paling tidak setiap hari ada 300 penonton yang berbeda. Pada jeda pertandingan kami putar musik Suket Teki dan kuis untuk penonton untuk penjajagan pemahaman mereka, sepanjang kompetisi kami pasang spanduk dan distribusi factsheet. Lomba kedua LOMBA TUMPENG Tumpeng yang diikuti kelompok perempuan. Pembuat tumpeng ibu-ibu tiap RT, tetapi yang interpretasi tumpeng adalah bapak-bapak juga tiap RT. Tujuan lomba ini selain pelestarian budaya juga penggalian informasi keanekaragaman hayati di masyarakat dan masyarakat akhirnya mengerti akan hal ini, itulah yang terpenting. Ketiga ada lomba CERDAS CREMAT, diikuti kelompok-kelompok perempuan, kegiatan ini sebenarnyajuga merupakan evaluasi apakah materi kampanye kita bisa dipahami atau tidak oleh masyarakat, Selain itu untuk melihat anemo masyarakat. Hasilnya sangat menggembirakan, karena partisipan banyak .

SARAN SAYA, metode ini juga efektif tetapi harus diikuti kegiatan lanjutan supaya pesannya benar-benar sampai, tidak sekedar lomba berebut hadiah. Sangat baik kalau semua kegiatan dari awal sampai akhir pengorganisasiannya lebih banyak dilakukan oleh kelompok itu sendiri, kita sebagai tim kampanya sekedar mendampingi. Itu yang saya lakukan, karena dengan cara itu selanjutnya mereka tidak tergantung dengan kita.  

5.      KEARIFAN TRADISIONAL DAN KONSERVASI. Selamatan banyu tiap tahun yang dilakukan masyarakat desa merupakan aksi konservasi nyata masyarakat yang sudah berjalan lama. Tetapi sayang pemaknaan kegiatan itu lebih menjurus kepada klenik. Jadi melalui kampamye ini kami berusaha memberikan rasionaliasasi kebiasaan tersebut. Dengan selamatan saja tidak cukup mempertahankan sumber air, tetapi aksi menanam pohon disekitarnya yang disertai do’a atau ritual serta perawatan yang baiklah yang bisa.

SARAN SAYA, kalau ada yang menggunakan metode ini sebaiknya diadakan penggalian tentang maknanya, dalam kelompok-kelompok kecil, karena mereka mungkin akan meneruskan tradisi ini, tetapi sayang kalau tidak mamahami makna secara rasional.

PENGUATAN KAPASITAS ORGANISASI.

Permasalahan lingkunganakan bisa terselesaikan kalau dilakukan secara kolektif. Untuk itu pengorganisasian sangat penting. Beberapa kelompok yang kami sasar dalam hal ini adalah Kelompok Tani Tahura, Lembaga Masyarakat Desa Hutan, Kelompok Tani Organik, Kelompok Swadaya Masyarakat, Kelompok Dono Wareh, Kelompok Perempuan dan Pondok Pesantren. Kami memberikan beberapa materi managemnt keoranisasian, serta beberapa ketrampilan langsing seperti pembibitan, Pemadaman kebakaran, Kepemimpinan serta menegement keuangan. Hasil yang paling nyata dalam strategi ini adalah menurunya tingkat kebakaran, sebelum kampanye 3.900 ha setelah kampanye hanya 86 hektar.

SARAN SAYA

AKSI NYATA. Dalam survey kami sebelum kampanye masyarakat yang terlibat dalam aksi langsung ke hutan hanya 43% tetapi setelah kampanye menjadi 53%. Ada hubungan antara pertambahan tingkat pemahaman dan tingkat perubahan prilaku. Aksi nyata terhadap kawasan selama proses kampanye adalah penanaman masal yang dilakukan di Arboretum Kaliandra dan di wilayah perhutani maupun Tahura. Semua pihak memberikan kontribusi dalam aksi ini, terutama Tahura dan Perhutani. Paling tidak lebih dari 600 ha lahan kritis selama proses kampanye telah direboisasi.

Penanaman saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan perubahan prilaku yang  nyata atau menghilangkan ancaman utama. Kampanye saya telah menurunkan angka pembuat arang di hutan dari 83 orang menjadi sekitar 15 orang. Padahal pembuat arang adalah kelompok yang potensial menyebabkan kebakaran hutan. Jadi satu ancaman utama sudah berkurang. Bagaimana ini bisa terjadi? Saya berusaha mencarikan alternatif pendapatan buat mereka diantaranya terus mendorong konsep hutan asuh yang melibatkan pihak swasta. Perubahan managemen pengelolaan hutan oleh pemerintah walaupun belum pada porsi terbaik, harus saya syukuri karena pada kenyataanya juga membantu menghentikan laju kebakaran hutan.

Alternatip pendapatan pembuat arang diantaranya : menjadi mandor tanam di Tahura, mengelola lahan sendiri untuk budidaya sayur organik yang dijual ke Kaliandra, bekerja sebagai kuli bangunan dan mengembangkan ternak sapi. Ada beberapa hambatan sehingg alternatif-alternatif itu tidak lancar. Diantaranya sulitnya permodalan, serta ketrampilan teknis terutama masalah pemasaran yang harus dikembangkan.

SARAN SAYA, sebaiknya porsi ini yang menjadoi fokus manager kampanye paska kampanye. Untuk memberikan jawaban ekonomi yang selalu dijadikan alasan masyarakat untuk mengeksploitasi hutan. Alternatif lifelehod lah yang harus dikembangkan. Kemitraan dengan sektor swasta terutama yang bahan mentah produksi bersumber dari jasa hutan harus kita libatkan.

Pemerintah seberapapun feodalnya atau seberapun kolodnya tetap harus kita ajak bekerja sama. Jangan patah arang menghadapi gaya kinerja pemerintah, untuk itu melibatkan media massya sebagai presure group menjadi penting. Kita tidak akan konfrontasi dengan pemerintah, tetapi masyarakat yang sudah memilki pengetahuan, pemahaman , kepedulian dan komitmen, mereka akan mengerti apa yang harus mereka lakukan termasuk bagaimana bersikap dengan pemerintah.

Paska kampanye PRIDE CAMPAIGN . Saat ini organisasi saya memilki program Pride Campign JILID 2. Kampanye ke dua ini diterapkan di 6 desa yang berbeda. Managernya bukan saya lagi, karena ternyata para volunteer saya dalam menjalankan kampanye pertama bisa melakukan sendiri, terutama mas Fathur yang selama kampanye pertama sangat aktif membentu saya. Hampir semua materi dan pengetahuan saya diserapnya. Jadi mas Fathur-lah yang memang Pemuda asli desa target pada kampanye pertama, yang menjadi manager kampanye jilid 2 ini. Karena kampanye ini di biayai oleh Kaliandra sendiri maka programnya tidak seketat dan sebanyak kampanye pertama.

Catatan saya mengenai Hal – hal yang menetukan kelanjutan kampanye antara lain : Komitmen dan Eksistensi lembaga serta kemandirian organisasi. Kedua komitmen dan eksistensi manager kampanye. Ketiga adalah Motivasi tim dan masyarakat, ke-empat Daya dukung termasuk biaya, informasi, peran pemerintah , net work

Pengembangan kapasitas kelompok yang terproses pada kampanye pertama ternyata memberikan andil dalam keberlanjutan kampanye. Karena telah banyak orang yang bisa menjadi agen perubahan. Ini merupakan hal sangat strategis untuk mendukung kampanye berikutnya. Tetapi dengan lahirnya organisasi-organisasi baru yang bermotivasi konservasi terkadang juga membuat kepala pusing. Bila ego mereka tidak bisa kita kompromikan yang terjadi justru konflik. Saya pernah mengalami hal ini ketika ada benturan antara beberapa Kelompok Tani Hutan yang saling menyatakan bahwa kelompoknya yang paling bagus dan paling menentukan proses rehabilitasi hutan. Solusinya pertama kita harus SANGAT SABAR. Memediasi mereka pekerjaan yang berat. Selain sabar juga keberanian memperjuangan visi yang kita yakini.

Alternatif  program livelihod adalah sebuah keharusan yang perlu dikembangkan di site saya. Karena motivasi masyarakat yang melakukan tekanan ke hutan salah satunya karena faktor ekonomi. Pengembangan program PES yang dibungkus denganpola hutan asuh ternyata memilki beberapa turunan program yang mengembangkan ekonomi mikro.

Penghargaan yang membanggakan. Awal Juni 2008 saya mendapatkan undangan dari Rare untuk memberikan presentasi atas hasil kampanye Bangga – ku. Tidak tanggung –tanggung tempatnya di Chicago USA dan saya harus presentasi di depan Board and trusty-nya Rare. Hal ini semakin menambah kebanggan, keyakinan saya bahwa banyak pihak yang turut mendukung  terhadap apa yang saya lakukan. Saya mendapat kehormatan untuk memberikan presentasi kepada orang-orang yang luar biasa tersebut. Saya katakan luar biasa karena mereka memang orang-orang yang luar biasa. Mereka memilki kelebihan dalam hal financial, pengaruh dan mungkin masih banyak lagi potensi. Tetapi mereka begitu peduli terhadap permasalahan konservasi, lingkungan hidup dan sosial ekonomi di bumi ini. Di Indonesia juga banyak orang yang kaya, punya pengaruh dan potensi lainnya, tetapi sayang masih minus kepedulian.

Selain kebanggaan yang saya dapat dalam perjalanan ke Chicago, banyak Pelajaran yang begitu berharga terkait dengan bagaimana Rare bisa melakukan fund rising. Managemen komunikasi untuk menggalang para donatur, mengembangkan kurikulum, net woking dan monitoring semua program, semua bisa berjalan begitu rapi. Hal ini langsung memberikan motivasi dan ide kapada kami untuk membuat hal yang serupa untuk diterapkan di Indonesia. Saya katakan kami karena waktu itu saya datang ke Chicago bersama bapak Bagoes Soeprijono Brotodiwirjo, salah satu pendiri dan pembina Kaliandra yang memilki visi luar biasa terhadap konservasi alam dan budaya serta orang hebat yang selalu memberikan motivasi dan dukungan terhadap program-program saya.

Dua bulan setelah dari Chicago kami menginisiasi mengumpulkan para Filantrop Indonesia di Jakarta. Kurang lebih 40 orang datang dari berbagai latar belakang, ada pejabat, pengusaha, artis, dan akademisi. Pertemuan yang bertempat di  Kemang Timur Raya no 7 tersebut  saya awali dengan presentasi keadaan secara umum alam indonesia serta sedikit cuplikan hasil prde campign ku ternyata mendapat tanggapan yang positif. Kami memilki keyakinan suatu saat forum ini akan bisa menjadi sebuah organisasi seperti  Borad-nya Rera. Tugas kami selanjutnya adalah terus melakukan perbaikan komunikasi dengan mereka, bahkan sampai saat ini hal tersebut terus berjalan dan tentunya membutuhkan waktu, masukan-masukan dari banyak pihak supaya apa yang kami cita-citakan membentuk “ GREEN INDONESIA COMMUNITY” bisa terwujud.

Pride Campaign –ku membidani lahirnya Program Payment for Environmental Services (PES).

Salah satu cita-cita dalam program pride campign saya adalah bagaimana mendorong pihak swasta untuk turut serta memberikan dukungan terhadap program konservasi. Hal mengingat bahwa pentingnya sebuah investasi berkelanjutan dimanahal ini bisa terealisasi apabila sumber daya dan daya dukung lingkungan bisa seimbang. Sehingga diperlukan upaya kampanye baru untuk memberikan wacana-wacana konservasi untuk mengimbangi motivasi mereka ( sektor swasta/pihak pengusaha)yang selalu berorientasi kepada eksplorasi.

Di luar dugaa saya juga, ternyata media dan metoda kampanye yang kami jalankan bisa menyentuh perasaan dan mengambil hati serta kepedulian beberapa pihal swasta di sekitar lingkungan site kampanye saya. Tetapi bukanya saya tidak mengalami hambatan dan masalah dalam program ini.   Di awal untuk mengundang  pihak swasta untuk mau hadir dalam sebuah diskusi merupakan tantangan berat. Rupanya mereka mengalami trauma karena selama ini selalu “dimanfaatkan” oleh beberapa pihak dengan dalih kegiatan konservasi tetapi ujung-ujungnya tidak memberikan program nyata dan berkelanjutan, sementara mereka sudah mengeluarkan biaya.

Membangun kepercayaan adalah hal yang sangat penting, dan hal ini bisa saya lakukan. Caranya dengan memberikan pemaparan visi program yang jelas dan trasparan, kita mau mengakomodir kepentingan mereka dan jangan terlalu menekan bahkan menghakimi. Ternyata begitu pintu saling percaya terbuka maka sebenarnya kita tau mereka juga memilki wawasan atau visi lingkungan yang luar biasa dan ketika merencana program bisa relatif kooperatif.

Di Kabupaten Pasuruan bahkan di propinsi Jawa Timur ini merupakan program nyata penerapan PES yang pertama terjadi. Banyak lembaga, organisasi seperti LSM, bahkan dinas-dinas pemerintah mencoba menerapkan program PES , sampai saat ini juga belum ada yang berhasil. Ini suatu kebanggan saya tersendiri juga buat saya dan tim yang membantu saya selama proses kampanye.

Setelah melalui proses yang panjang akhirnya pada bulan Oktober 2008, kami telah membuat suatu kesepakatan dengan PT. Tirta Investama , perusahaan air mineral kemasan yang memilki produk dengan merk Aqua.  Program yang akandijalankanmerupakan kepanjangan program yang diinisiasi selama program kampanye yakni pengelolaan kolaboratif denganmekanisme hutan asuh. Pihak Aqua membiaya proses reboisasai hutan seluas 10 hektar di kawasan hutan lindung Perhutani . Komponen pembiayaanmeliputi proses tanam termasuk bibit dan pupuk, serta upah kepada petani untuk merawat tanamn yang sudah ditanam selama 5 tahun. Pada tahun pertama petani perawat ( priyoritasnya pembuat arang) mendapat uang secara kontan tiap bulan setara pendapatan mereka bila mencari arang, namun untuk tahun selanjutnya mereka dibayar dengan keuntungan penjualan sapi yang mereka rawat yang indukanya di modali oleh Perusahaan. Sementara Kami melakukan proses monitoring dan mambantu membuatkan pelaporan dari proses pekerjaan kelompok tani untuk tahap awal dan selanjutnya diharapkan bisa dilakukan kelompok tani sendiri.

Keyakinan kami kalau kita bisa memberikan dan menjaga kepercayaan masing-masing pihak maka akan semakin banyak pihak swasta yang akan mengadopsi program serupa dimasa datang. Artinya dukungan terhadap proses konservasi akan semakin luas berarti bisa meringankan beban pemerintah dan membantu kemakmuran masyarakat khususnya masyarakat desa hutan.

Kemajuan dalam program PES ini semakin nampak dengan terbentuknya HUTAN ASUH TRUSH FUND. Merupakan konsorsium yang anggotanya terdiri dari LSM lokal, Organisasi masyarakat lokal seperti : Paguyuban Kelompok Tani Tahura (PKTT) Pasuruan, Paguyuban Lembaga Masyarakat Desa Hutan (PLMDH) BKPH Lawang Barat Pasuruan, Aliansi Jurnalistik Independen (AJI Malang), Perguruan Tinggi ( Unibraw) dan Corporate Forum (CFCD).

Hasil Kampanye Pride telah membangun KAP di masyarakat, dan saat ini semakin banyak orang atau organisasi yang terlibat dalam menyuarakan bahkan sampai melakukan aksi konservasi di sekitar gunung Arjuna.

YANG MENARIK untuk disimak lebih lanjut adalah beragamnya motivasi, yang sementara ini saya identifikasi bermotif 1) memang berdasarkan kepedulian yang tulus, 2) ikut tren, 3) Karena regulasi, dan bermotif bisnis atau aktivitas konservasi dijadikan sebuah komoditi dagang.

Kesimpulan

Program Pride saya belum selesai masih terus berjalan, jadi saya tidak menyimpulkan. Yang pasti Program Pride ini sangat istimewa dalam hidup saya.

Ucapan terimakasih

Dengan telah berjalanya proses kampanye yang saya pimpin di kawasan Tahura R. Soerjo ini saya mengucapkan terimakasih kepada mereka yang langsung maupun tidak langsung telahmemberikan sumbangan apapun.

Mas Hari Kushardanto dan mbak Sarilani Wirawan adalah saudara, teman dan guru saya yang selama proses kuliah penerapan pride bahkan sampai saat ini juga masih selalu membantu pengembangan program-program saya denganide-ide segarnya. Yang tidak kalah pentingnya dari 2 sahabat saya ini adalah cara memotivasi yang tidak ada habis-habisnya, serta memberikan teladan yang baik.

Bapak Nigel , Brett Jenks dan bapak Dicky Simorangkir, meskipun peranbeliau-beliau dibelakang panggung dan jarang berkomunikasi secara langsung dengan saya, tetapi saya meyakini mereka juga memberi kontribusi terhadap semua proses kampanye pride selama ini.

Bapak dan ibu dosen IPB, Bpk. Dr. Rinekso, Prof. Dr. Harini Muntasib, Ibu Ir. Yenny Msc, Ibu. Ir. A Sungkar, dan dosen-dosen lain yang telah dengan sabar dan iklas memberikan ilmupengetahuannya, sehingga bisa menjadi pegangan saya saat di lapangan.

Ma s Fathurahman, pemuda desa Jatiarjo yang setia membantu saya mulai pride ini dimulai dan bahkan sampai sekarang dengan sukarela ikut bersama saya mengawal kelanjutan program pride campaign jilid 2 di kaliandra.

Serta pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebut satu persatu tetapi begitu membantu proses kampanye pride saya ucapkan terimakasih.

Adapun pihaki-pihak lain yang selama ini cenderung menghambat, mempersulit birokrasi, memberi pikiran dan komentar negatif terhadap program pride ini, saya do’akan semoga hidup berbahagia juga. Walaupun Anda belum bisa menerima program ini akan tetapi keberadaan Anda telah membantu proses saya untuk belajar lebih dewasa dan memahami makna sabar.

 

 

Comments (0)

Translate Content:

similar campaigns

  • Asia
  • Mammal