RarePlanet.org, as you know it, will retire in spring, 2014. Please visit www.rare.org for new and improved content and subscribe to the e-newsletter for continued Rare stories and updates. Thanks for your contributions. We look forward to hearing from you on Rare.org!

Bogor 3

Blog

Kegagalan yang Menjadi Pelajaran bagi Kawasan Konservasi Halimun

Projek SFDP merupakan projek  bilateral antara Indonsia melalaui Departemen Kehutan dengan pemerintahan German, yang sudah dilakasanakan sejak tahun 1989. Projek ini telah menghabiskan dana sebesar Rp 240 milyar selama 12 tahun projek, dengan area projek ± 102.000 hektar.  Tujuan projek ini adalah : 1) kelesatarian pengelolaan hutan, dan 2)  meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Projek  ini dianggap gagal mencapai tujuan, khususnya pada saat terjadinya masa “reformasi” tahun 1998-2000.  Dimana kawasan hutan yang dirancang dikelola berbasis masyarakat hancur total dengan perambahan besar-besar oleh masyarakat itu sendiri.  

 

Berdasarkan pengalaman yang dipresentasikan oleh Dr. Diki Simorangkir, ada beberapa point  pelajaran yang perlu diperhatikan untuk menggunakan pendekatan agroforestry sebagai salah satu tools berier removel dilokasi pride kampanye saya adalah sebagai berkut :  

 

1).  Faktor Kelembagan

Faktor kelembagaan ini penting diperhatikan khususnya yang terkait dengan hubungan antar masyarakat yang memiliki etnografi budaya yang berbeda.  Walaupun terlihat secara general satu etnis sunda (di Kawasan Halimun), bisa jadi kedalaman etnisitas budayanya berbeda, dan memiliki persepsi terhadap satu isu (konservasi kawasan) juga akan berbeda.  Perhatikan juga relasi power diantara mereka yang berbeda, bahwa dalam konstruski social – budaya masyarakat ada relasi  klas-klas yang memiliki power, akses dan control terhadap sumber daya yang bereda, masyarakat adat (ketua vs pengikut), masyarakat adat vs masyarakat local, masyarakat adat/local vs pendatang, masyarakat generasi tua vs generasi muda, masyarakat laki-laki vs masyarakat perempuan, dll.  Elemen-elemen ini penting dilihat secara konprehensif dan dianalisis untuk mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan disemua level.  Selanjutnya hubungan masyarakat dengan pemerintah dan parapihak lainnya.  Perlu diingat dan diperhatikan juga bahwa “paradigm” bahwa pemerintah yang berkuasa atas SDA (kawasan konservasi) akan  ada resiko munculnya partisipasi semu dalam pelaksanaan projek. Disamping itu penting juga untuk diperhatikan system kelembagaan adat atau local yang sudah ada, apakah hokum atau norma adat atau lokal yang ada masih relefan dengan kondisi kekinian, apakah ada asimilasi dan adaptasi aturan atau norma adat / local  atas introduksi budaya luar,  dan bagaimana kemungkinan  revitalisasi hokum/aturan/adat yang sesuai dengan kondisi kekinian atas penyelesaian ancaman yang dihadapi. 

 

 

2) Factor Sistem Pengelolaan Agroforestry

Perhatikan system-sistem atau model-model agroforesty tradisional atau berdasarkan pengalaman projek-projek lainnya.  Seperti yang dicontohkan di sanggau: syarat pengelolaan hutan yang lestari berdasarkan penelitian adalah pemanen 8 pohon/ha, pada kenyataanya kesepakatan akan hal ini bisa dilanggar dengan munculnya situasi politik negara.    Cari system yang lebih memberikan nilai ekonomi, dan yang menjadi concern adalah marketingnya.  Beberapa pendekatan yang bisa dilakukan antara lain : export product hasil hutan yang berorientasi export, fair-trade, atau ecofriendly product.  Pertimbangkan!!, untuk jalin lagi hubungan bisnis dengan starbuck coffee (cc Andrew-Seatle).  Lalu bisa juga  dengan pendekatan sertifikasi ecolabel-LEI (Lembaga Ekolabel Indonesia) untuk membantu proses sertifikasi system pengelolaan berbasis masyarakat.  Atau bisa juga dengan pendekatan pemanfaatan jasa lingkung.  Yang penting diperhatikan juga adalah peningkatan skill masyarakat bukan sekedar peningkatan kapasitas teknis saja tetapi juga penting peningkatan kapasitas jiwa entreupeneurship masyarakat.  Bisa dicoba menggunakan pendekatan bisnis multi level marketing.  

 

3) Faktor Hak akses dan control

Hal ini bisa terkait dengan hak akses atas tanah dan sumberdaya alam yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah atau pengambil kebijakan yang terkait.   Perlu diperhatikan pada proses penatagunaan kawasan dan perencanaan yang harus benar-benar partisipatif. Artinya bukan hanya masyarakat yang dilibatkan tetapi juga sudah mulai melibatkan aktif pemerintah daerah, pengelola taman nasional, dan pihak-pihak pengelola lainnya yang bermain di kawasan Halimun.  Aspek sejarah pengelolaan masyarakat local atau adat penting digali lebih dalam.  Pemberdayaan tidak hanya dilakukan di level masyarakat tetapi juga pada level pemerintah atau pengambil kebijakan, baik di level nasional (pihak taman nasional) maupun di level daerah (pemerintahan kabupaten dan DPRDnya).   Dan yang penting juga adalah adanya proses kajian produk-produk hokum positif tentang pengelolaan kawasan konservasi secara kritis diantara para stakeholders 

Comments (1)

Thanks ya Teh Nani. Benar sekali bahwa kita belajar dari dua hal: keberhasilan dan kesalahan. Dari kasus social forestry di Sanggau kita bisa belajar bahwa duit berlimpah, waktu lama dan dukungan saja tidaklah menjamin suatu keberhasilan. Kalau kita menarik kesimpulan dari semua ilmu dan informasi yang telah kita pelajari sampai hari ini: dari difussion of innovation, barrier removal, theory of change sampai dengan data qualitative pada hari ini, ada banyak hal (informasi) yang perlu diperhatikan. Interaksi sosial (antara masyarakat dan kelompok yang ada di masyarakat) perlu mendapatkan perhatian khusus. Siapkah tatanan norma dan struktur sosial menerima suatu perubahan. Apa indikator yang bisa kita gunakan untuk mengatakan bahwa tatanan norma dan struktur sosial tersebut sudah siap? Kita juga harus berpikir kreatif untuk membantu memutuskan rantai panjang pemasaran dari tangan produsen sampai dengan consumer. Selama pasar selalu dikuasai oleh pemodal besar atau tidak ada komitmen yang kuat (karena sistem aturan yang lemah misalnya) maka akan sulit bagi kita untuk membantu mengangkat kehidupan khalayak kita. Seritifikasi dan kerjasama dengan pihak lain perlu dijajagi oleh karenannya kita perlu mendapatkan informasi apakah ada peluang yang bisa dikembangkan ke arah ini. Kalau kita membangun konstituen maka kita akan mendapatkan dukungan akan tetapi kalau kita hanya mencari dukungan kita tidak akan mendapatkan konstituen yang kuat. Dukungan dapat berakhir ketika kekuasaan selesai. Great! H

Translate Content:



group members

Paul Butler.gif
sunflower.jpg
On Oahu boat.JPG